Tepi ketenangan Abah melihat dengan tatapan gundah. Ia lemah. Hari ini semua terasa begit berat. “kau telah mendapatkan semuanya” jelas abah matanya mengernyit dalam kemelut pagi. “belum bah! Belum semua, tinggal selangkah lagi” jawab rendi sambil merapihkan dasi birunya. pilihan tepatnya- dasi pertama yang ia punya dari abah-. Rendi memang membagi waktu seutuhnya untuk pekerjaan. Ia seorang pembisnis muda ia tau itu. Tak ada waktu yang boleh terlewatkan dengan main-main. Karena itu hanya percuma. Pagi ini udara terasa tak sesejuk biasanya untuk abah. ia tak berolahraga ada yang lebih penting dari itu. sesuatu menohoknya. ia sangat ingin mengungkapkannya kepada rendi karena ini jelas tentang keluarga. “sebentar lagi sempurna sudah” sambut rendi pelan. Ungkapan kejayaan. Memang belum ada yang mengingatkannya. Ia belum mengetahui soal kebuasan dunia bisnis. Dan saat ini ia benar-benar lapar. “semua itu yang kau inginkan, tak ada lagikah..” sela abah. ...
Aku hanya cendawan yang sebentar mati tanpa keteduhan