Tepi ketenangan
Abah melihat
dengan tatapan gundah. Ia lemah. Hari ini semua terasa begit berat.
“kau telah
mendapatkan semuanya” jelas abah matanya mengernyit dalam kemelut pagi.
“belum bah!
Belum semua, tinggal selangkah lagi” jawab rendi sambil merapihkan dasi birunya.
pilihan tepatnya- dasi pertama yang ia punya dari abah-.
Rendi memang membagi waktu seutuhnya untuk
pekerjaan. Ia seorang pembisnis muda ia tau itu. Tak ada waktu yang boleh
terlewatkan dengan main-main. Karena itu hanya percuma. Pagi ini udara terasa tak sesejuk biasanya
untuk abah. ia tak berolahraga ada yang lebih penting dari itu. sesuatu menohoknya.
ia sangat ingin mengungkapkannya kepada rendi karena ini jelas tentang
keluarga.
“sebentar lagi
sempurna sudah” sambut rendi pelan. Ungkapan kejayaan.
Memang belum ada
yang mengingatkannya. Ia belum mengetahui soal kebuasan dunia bisnis. Dan saat
ini ia benar-benar lapar.
“semua itu yang
kau inginkan, tak ada lagikah..” sela abah. Ia melanjutkannya lewat hati.
“ya mungkin,
akan aku susun rencananya nanti” rendi melipat bibirnya. Membalik. ia
kalut.
“ttsss ttssss”
handphone bergetar
“maaf bah
waktuku tidak banyak aku ada rapat pagi ini, aku pamit” rendi berberat hati mencium
tangan abah lalu berlalu.
“mang kerjo, aku
titip abah” bisik rendi di telinga orang kepercayaannya. Mang kerjo mengiyakan.
“biar saya
bantu, pak?”
“sebenarnya aku
juga bisa lebih baik tanpa kau” seloroh abah.
“terima kasih”
lanjutnya ketus.
Mang
kerjo tertunduk. Membuntuti. Ia harus selalu siap karena untuk itu ia digaji. Mereka
berjalan seperti barisan. Melangkah seirama dan tenang. Nampaknya abah menuju
kekamarnya mereka menyusuri koridor tanpa sedikitpun berkata.
“krek” deru
pintu.
Abah
merebah diatas sofa ia tampak begitu lelah lalu matanyapun terpejam. Mang kerjo
perlahan keluar berusaha menyekap suasana. Ia mengumpat tak kuat melihat wajah
itu.
“jo” Abah
mengatur nafasnya.
“baik pak”
sontak kerjo.
“tolong antarkan
bapak kemakam ibu,sekarang!” pinta abah lirih. Kesunyian terasa begitu dalam.
“baik, pak! Saya
akan siapkan mobil” tukas kerjo.
Abah
memang akhir-akhir ini lebih sering melenggang kemakam. Pemakamannya itu tidak
begitu jauh cukup beberapa menit dengan menaiki kendaraan dari rumahnya. Mang
kerjopun tidak mengerti kenapa abah seringkali meminta kesana. Namun seperti
biasa ia hanya menurut.
………….
“amiin” abah mengusapkan tangkuban tangannya
kemuka.
Abah
membuka senyum menyelipkan semua cerita. Kini sudah genap 10 tahun sepeninggal
istrinya. Ia coba meraba setiap masa. Mengilas kedamaian yang tak ia temukan
lagi setelahnya. Seperti terkubur bersamanya. Lastri handayani. Ibu hebat yang berjuang seutuhnya
untuk keluarga. Sayang, ia tak mampu menemani suaminya lebih lama.
Memang benar, sebesar apapun cinta yang terbangun tetap tanah akan menjadi
pemisahnya.
“bu, apa kabarmu
disana?” abah perlahan memuai.
“rendi, anak
kita ia sekarang sudah lebih besar bahkan lebih tinggi dari aku. Ia hebat. Kau
pasti bangga melihatnya.” Suaranya serak. Masa lalu telak menghimpitnya.
Cuaca
hari ini terang mang kerjo berdiri khidmat menaungi abah dari panas. Ia
terhanyut dalam senandungan lirih abah. Sementara angin kian berhembus abah menitikan air mata. Dengan sendirinya
bulir jernih itu mengalir dan seketika kehampaan yang menggumpal semua seakan terangkat.
abah seperti melihat istrinya tersenyum. Iapun tertunduk.
“ini bunganya
pak!”
“aku akan lebih
sering kemari” abah merekah senyumnya tertarik. Ia hapus titik air mata di
wajahnya.
“aku pamit” Abah
menaruh bunga ditengah pusara.
Ia
senang melihat kamboja dekat makam istrinya. setiap mendatangi makam istrinya
ia pasti mengikat satu pita disana. Seolah kamboja itu adalah saksinya. Setiap
melihatnya ia seperti merasa bahwa ia tak sendiri . Dan ia percaya mungkin itu
benar.
“mari jo kita
pulang!”
“mari pak”
Mang
kerjo melangkah lebih awal. Pintu belakangpn dibukakan. Abah berjalan dengan
terbatuk walaupun begitu raut mukanya terlihat berbeda. Lebih cerah dari
sebelumnya. Langkahnya kembali tegap. Ia siap memulai hidup setidaknya untuk
hari ini. Mang kerjo masuk kedalam mobil ia menarik kaca diatas kepalanya
memastikan kenyamanan majikannya. Ia melihat dengan pasti. Iapun sumringah
menata pandangan kepusara. Sepertinya ia telah mengerti.
“kita jalan ya
pak” seru mang kerjo.
…………
Ruangan
itu dipenuhi orang-orang berdasi -wajah yang tak asing-. Mereka sudah beberapa
kali mengadakan rapat berjam-jam ditempat itu. Semua tatapan seperti memangsa.
begitu keras. Masing-masing dari mereka bersitatap lalu seseorang yang lain
kembali panjang lebar bicara hingga tercapai kesepakatan terakhir. Lalu mereka
berjabatan.
“terima kasih”
rendi menutup presentasenya. Ia menunjukan yang terbaik.
“okay, tuan-tuan
kita sudahi meeting kita kali ini” seru seseorang tersenyum.
“selamat rendi,
tadi itu hebat” dekap seseorang dengan alis terangkat.
“selamat”
Ini
hebat. Rendi terlambung diubunnya berlintangan penghargaan. Ia memang telah
menyiapkan ini sejak lama. Ia juga sempat tak menyangka. Ia terus membuang
senyum. Saat ini ia merasa dirinya bukan lagi seorang pecundang. Berjalan lurus
kedepan dengan pikiran melambung.
“selamat ren”
jabat seseorang menghentikan langkahnya.
“terima kasih,
bagaimana kalau kita makan siang. Aku teraktir” ajak rendi.
“kesuksesan ini
memang harus dirayakan, biar aku saja yang teraktir. Sekalian kuantar kau pulang”
seseorang menggiringnya kesebuah mobil.
“apa boleh buat
kalau kau memaksa…” jawab rendi
terkekeh.
Ia
riko teman satu kantor. Ia juga ikut meeting barusan dan tak bisa menyangkal.
Rendi memang hebat. Ini bukan
keberhasilan pertama yang dibuatnya. Riko agak gemuk kemejanya saja selalu
terlihat menonjol. Padahal sudah ukuran Lebar. Rendi berusaha menahan senyumnya
karena ia tau ini belum semuanya. Ia juga sudah muak disuruh.
………….
“ren sebenarnya
ada yang ingin w kasih liat ke elu” tukas riko
“kasih liat ke
w, apaan?”
“tut….tut..tut”
“sebentar
ren”pinta riko. Rendi mengangguk.
Rendi
mencoba untuk ini duduk santai memangku kaki kanan. Pekerjaannya selesai ia
coba menguras kepenatannya.
“lama banget si
riko, keman sih dia?”
“ren, elu liat siapa
yang w bawa” jelas riko.
Rendi
menaikan sedikit pandangannya. Rendi menatap biasa seperti orang-orang umumnya
tapi ia berkesan.
“ya, silahkan
duduk!” tawarnya.
“gini ren, w mau
ngenalin elu sama ade w” tancap riko
“rendi”rendi
memulai.
“maya”
“oh! Ini maya
yang tempo lusa elu ceritain”
“right, maya
lagi liburan kali ini”
“Kalian w
tinggal sebentar ya. w permisi buang air sebentar ”
Pelayan
melayangkan pesanan mereka. Rendi terkatup. Ia sangat tidak terbiasa dengan
keadaan ini. Ia mencoba untuk tenang dan menyusun semua.
“may ee kamu
pesan apa?” Tanya rendi.
“sama sajalah
kayak kalian”
“mba pesan satu
lagi ya”
“baik, permisi”
kata pelayan.
Pelayan
berlalu rencanapun usai. Maya malah asyik bermain dengan handphonenya. Kalau
ada pertanyaan sebentar ia angkat bicara lalu kembali ke handphone. Rendi bosan.
Ini lebih hebat dari meeting. akhirya ia memutuskan untuk cukup diam sampai
riko datang.
“loh! Kok Cuma
diam, kayak gini sejak tadi”
“iya w juga
sudah kenal”
“memang
sebelumnya kalian pernah ketemu” riko mengangkat alis
“belum, may”
sapa rendi menekan
“w orang yang
hampir elu tabrak, inget!”
“ooh kamu,,”
“iya, dan elu
malah tertawa dan pergi.”
“suaranya
kedengar dan w jelas ngelihat” tajam rendi.
Rendi
menyunggingkan senyumnya. Ia hanya bicara yang sebenarnya dan ia sangat tidak
wanita ugalan. Apalagi yang tidak punya rasa tanggung jawab. Maya berhenti
bermain dengan handphonenya ia tak dapat berkata dan riko ia hanya membalas
seyum masam rendi. Sepetinya ia tak keberatan.
“aku rasa makan
siang ini sudah hancur. Riko anter w pulang.”
“sebentar, ren
maaf sebelumnya. Khususnya adik w” rendi mengangguk. Mereka berjabat.
“riko,
sekarang”teriak maya.
“tidak sopan” bantah
riko.
“ternyata benar”
rendi menggeleng. Sebelumnya ia tak yakin maya adalah wanita itu, karena riko kakanya
sendiri adalah orang baik. Mereka keturunan orang berpendidikan.
Riko
menuntunnya cepat. Ia tau kehormatan itu penting apalagi masalah budi pekerti
rendi yakin ia sangat memahami itu.
“Ya sudahlah,
apa boleh buat” ia mencoba mengerti.
“selamat makan”
ucap rendi setelah berdoa.
……….
Memberi
“pak, besok saya
ada acara. Mungkin tidak bisa kerumah”
mang kerjo ragu.
“loh! Acara apa” Tanya abah. Mang kerjo
sebelumnya tidak berniat karena ia melihat wajah abah yang sejuk ia mengira ini
kesempatan. Ia menelan ludah.
“bismillah”
getarnya dalam hati.
“besok saya ada
syukuran. Alhamdulillah istri saya sudah melahirkan pak” ungkapnya.
“kapan
melahirkannya?” respon abah.
“kemarin subuh,
pak! Alhamdulillah lancar kalau bapak mau bapak bisa datang besok sore ke rumah
saya” sambut meng kerjo girang.
“biar saya
jemput, gimana?” lanjutnya.
Mang
kerjo menarik senyumnya tulus. Ia membayangkan istri dan anaknya yang sehat setelah
proses melahirkan yang menyeramkan. Antara hidup dan mati. Saat-saat kucuran
keringat dan doa mengalir deras yang ikut memacu jantungnya berdegup hebat.
“Alhamdulillah” Bibirya
mengeyam kata syukur yang dalam.
“jo” tegur abah.
“jo, kamu
baik-baik sajakan?”
“maaf pak saya
melamun”
“baik jo, saya
tunggu kamu besok sore ya”
………..
“abah mau
berkunjung ke rumah mang kerjo, kamu mau ikut?”
“nggaklah bah,
mumpung hari libur rendi istirahat sajalah” jawab rendi malas.
“istirahat bukan
berarti bermalasan justru berganti dari satu pekerjaan kepekerjaan lainnya,
ingat itu” tegas abah.
“iya bah, tapi
beneran lemes” rendi coba mengeles.
Hari
ini minggu yang hangat. Langit memayungi bumi penuh cinta burungpun ramai
bermain. Abah mendekat ke jendela yang terbuka. kainnya mengombak. angin berhembus
ceria menyisir kepermaian uban yang bersemai dikepalanya. Ia memang sudah berusia
lanjut. matannya mengembara bersitatap dengan matahari.
“ternyata sudah lama sekali” raungnya dalam
kedalaman.Dan tatapannya menebal mencorakan wajah dengan rajutan takdir.
Rendi
tidur menyamping ia menahan kelopaknya sedikit terbuka. Hanya ingin memastikan
abah telah pergi. Ia melihat abahnya. Tulang pipinya menyembul meruangkan
sebuah lamunan untuk rendi. Sudah sejak pagi tadi abah berbicara tentang
kebahagiaan mang kerjo. Istri yang berhasil melahirkan Anak laki-laki keduanya
normal. Keduanya sehat. Abah begitu antusias bercerita sambil mengingat urat
kebahagiaan diwajah mang kerjo kemarin.
“mungkin abah”
pikirnya.
“rencananya 3
tahun lagi. Tapi, apa iya” lanjutnya menimbang.
“tok,
tok, tok” Tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu. Rendi tersontak.
langsung menutup rapat matanya.
“jo”
“iya
pak, bapak sudah siap” sahut kerjo.
“tunggu
sebentar” Abah membiarkan jendela kamar rendi terbuka. Ia menatap anak semata
wayangnya dengan tatapan manis seorang ayah. Lalu pergi.
………….
“assalamualaikum”
sapa mang kerjo.
“waalaikum
salam warahmatullahi wabarakatuh” sambut ramai anak kecil didepannya. Abah
melonggo ia berpikir sejenak.
“hebat
sekali” bisiknya.
“Anak-anak
kenalkan ini opah,cium tangan sama opah ayo” suruhnya.
Beberapa anak menarik baju abah,
yang lainnya cepat mengantri bahkan saling dorong. Abah tersenyum wajah yang
sama setelah pergi kemakam. Ini dimana senyum lepas itu sudah lama tak mekar.
“ayah”
seseorang berjalan agak sulit muncul dari balik antrian.
“oo
anak ayah” kerjo mengangkat ke pangkuan tangannya.
“aayah
ittu ciapa?” tanyanya terbata.
“ini
opah nak, cium tangan opah”
“opah”
sapanya mengangkat tangan.
“calim”
menggemaskan.
“anak
pintar, namanya siapa?” Abah melebarkan senyumnya menggapai tangan kecil itu
sambil mengelus rambut halusnya. Anak itu tak menghiraukan. Ia menggeliat
menggantungkan tangan keleher ayahnya.
“nak,
ditanya tuh sama opah” tegur mang kerjo.
“namanya
siapa?” Tanya opah mengayun nadanya.
“aku
fadli gitu” bisik ayahnya. Mang kerjo menuntun .
“fad..li”
jawabnya tersenyum. Gigi manis memilinkan hati abah. Mang kerjo melihatnya ia
mengulurkan fadli kepadanya. Abah menggapai dan fadli ia mengulurkan tangannya.
Rumah itu tidak besar dengan
satu kamar dan tanpa atap. Langsung melihat genting mungkin nanti akan
diperbaiki. Tapi cukup nyaman. Dindingnya sebagian belum dicat maklum mang
kerjo melanjutkan pekerjaannya hanya kalau ia sempat. Rumah ini dibangun dengan
keringatnya sendiri. Dipintu rumahnya
tertulis huruf arab indah yang menyambung. Abah kurang memahaminya. Baitii
jannatii. Dan mang kerjo dan keluarganya seperti aman didalamnya.
Mereka
membuat perkumpulan yang raqpih sepertinya sudah dipersiapkan matang.
“jo,
kau bilang anakmu hanya dua” ungkap abah.
“memang
pak, sebagian anak pengajian sini dan yang lainnya anak-anak yatim” jelas mang kerjo.
Abah mengangguk pikirannya mulai
sedikit terangkat. Ia seperti orang paling miskin didunia. Mang kerjo bukan
seorang berharta atau seorang yang memiliki gudang emas. Tetapi kenapa sempat
ia berpikir untuk berbagi sedikit hartanya untuk yang lain. Wajahnya mengitari
senyuman-senyuman kecil yang berkumpul.
Pencerahan yang hebat. Pembantunya sendiri menyantuni orang banyak tetapi ia
adalah seorang majikannya belum satupun.
“ya
tuhan” Abah terharu. Cerminan dirinya benar-benar tampak. Ia selalu berfikir
untuk kebahagiaannya dan keluarga. Begitu miskinnya ia.
Acara berjalan dipimpin langsung
oleh mang kerjo. Kemudian mereka membuka tangan bersama mengangkatnya dengan
wajah penuh harap. Abah menikmati acara dengan khidmat walau iapun tak mengerti
apa yang didengungkan mang kerjo. Setiap anak mendapatkan bungkusan hitam
dengan amplop ditangan. Kemudian satu persatu dari mereka pergi.
“terima
kasih opah, terima kasih ustad” salam seseorang diikuti dengan yang lain.
Mereka berlarian kerumah masing-masing kegirangan.
“kenapa
kamu membagi-bagikan ini dengan percuma”abah heran.
“karena
sebagian dari harta kita ada hak mereka pak, gitu” senyum mang kerjo. Abah
masih mengira-ngira maksud mang kerjo barusan. Semua ini sesuatu yang aneh.
“ayah….endong”
manja fadli.
“sepertinya
sudah sore, bapak mau langsung pulang” Tanya mang kerjo.
“boleh”
angguknya.
“pakle,
saya titp fadli ya” seru mang kerjo. fadli ngambek.”ayah kemana?”
“ayah
antar opa nak, sebentar ya!” rujuk mang kerjo.
“baik
ayah” jawab fadli berat. Matanya berkaca.
“fadli,
opah pulang ya”abah.
Setelah acara itu, abah merasa
tidak nyaman dalam hidupnya sendiri. Malamnya terganggu tidurnya terbebani oleh
semua piikiran yang menjolak tanpa jawaban.
“sesuatu
yang membingungkan, kenapa bisa? Siapa yang mengajarkannya” Tuturnya.
……..
terjatuh
“hari
ini harus lebih baik dari sebelumnya, harus” tekad rendi kepada dirinya.
Rendi berjalan tegap. Hari ini
ia ingin berlibur sekalian survey suatu daerah untuk kemajuan bisnisnya. Ia
bersama rombongan perusahaan berkumpul mengecek semua keperluan. Kira-kira
menghabiskan 5 hari di sana. Suatu daerah dengan kualitas sumber daya alam
berlimpah. Rendi yang memimpin.
“seperti
yang kalian tahu kita akan ,melaksanakan tugas ini cukup lama sekitar 4-5 hari,
lebih cepat lebih baik okay, semua mengerti” tegasnya memberi arahan pada
semua.
“catat
semua informasi dan semua hasil survey kalian, karena setelahnya wajib melapor,
mengerti” lanjutnya.
Mereka siap dengan semuanya.
Mereka hanya bersama disini disana mereka akan berpisah karena masing-masing
mereka mendapatkan tugas yang berbeda. Rendi memakai kacamata hitamnya. Mereka
berangkat. menempuh sekitar 5 jam didalam pesawat.
“bah,
rendi izin ada tugas beberapa hari diluar kota” jelas rendi.
“kamu
mengada ren,abah sendiri disini iya” jawab abah bernada miring.
“kan
ada mang kerjo bah” bujuk rendi.
“baik,
tugas adalah tugas dan tugas seseorang kepada abahnya..” tutup abah. Rendi
terdiam. Sudah seharusnya. Abah memaku wajahnya tetap masam.
Rendi membuka pejaman matanya.
duduknya kurang nyaman. Benar-benar 5
jam yang membosankan. Setiap kali wajah itu menghampirinya.
“maaf
bah, mungkin rendi harus pergi” Rendi menyimpan muka lusuh itu pada percakapan
kemarin. Sebenarnya hatinya sedikit tergores.
Pesawat mereka sampai. Syukurlah
perjalanan mereka selamat setiap dari mereka sekarang berpencar menuju
tujuannya dan untuk tugas masing-masing. Rendi ia menuju kearah pantai. Ia
bertugas didaerah pesisir.
“tunjukan
saya penginapan dekat pantai.” Pinta rendi. Seseorang bertopi mengangguk.
Pantai yang indah rendi membuka
kacamata hitamnya membiarkan semua keindahan itu mendeburnya. Ia kembali
menaiki angkutannya ia hanya izin berhenti sebentar kepada pengemudi ia ingin menikmati
semilir angin. Keteduhan pantai yang jarang ia temui.
“aku
rasa aku harus mengajak abah sesekali kesini” pikirnya.
Mobil angkutan yang dinaikinya
berjalan mulus. Mengikuti garis pantai hingga ia menghilang. “terima kasih” rendi
menutup pintu berucap pada sopir.
Rendi sampai pada sebuah penginapan kayu yang
asri dikelilingi rerimbunan pohon besar yang menjulang. Cahaya matahari berusaha
menyusup merayapi pohon-pohon rindang. Karena kerindangannya banyak kawanan
burung yang menumpang. Tak jauh sebelum rumah itu terdapat sungai kecil. Senangnya
air bergemelut dengan batu-batu besar dan kecil. Sekelilingnya lumut hijau
terlihat begitu segar gemericiknya mengundang banyak makhluk silih berdatangan
bergantung padanya. Serangga laba-laba air berjuang menempa arusnya. Ia seperti
bermain sky. Rendi memulai catatannya.
“permisi”
ketuk rendi. Pintu itu terbuat dari kayu tebal yang menempel padanya sebuah
besi.
“iya
tunggu sebentar” suara seseorang didalam.
“oooh
tamu, silahkan nak masuk” lugasnya. Rendi setuju ia menaikan semua barangnya
menariknya melewati tangga. Rumah joglo.
“saya
ingin meginap disini untuk beberapa malam”
“baik,
tidak masalah mari nenek antar. Kamu pasti dari sebrang, wajahmu tampak lelah,
ayo silahkan” tuntun wanita tua itu.
“nenek
sendiri?” Tanya rendi.
“aki
sedang kehutan mencari kayu”
Comments
Post a Comment