Bukan lagi sejam lamanya ia menunggu, tapi sudah 2 jam setengah dan ia tak berbuat apa-apa, tak pula ia mengenal orang-orang disekitarnya, ia berjalan mondar-mandir memasang wajah bodoh, menghabiskan waktu, ia sengaja berangkat lebih awal karena kemarin ia sempat ketinggalan kereta, dan sekarang kereta yang harusnya telah tiba tak kunjung datang, -entah kenapa ?- hingga sempat berubah putus asa. deva namanya, ia menyilakan tangan diatas dada, duduk mencoba rileks kembali, wajahnya tak lagi kusam, kaki kanannya ia tangkaikan diatas paha kiri lalu sesekali memangku wajah sambil sengaja mengayun-ayun kaki. Stasiun kereta api ini menjadi stasiun yang aneh dan indah di matanya, keramaian orang namun tetap tertib, tidak ada pedagang, tanpa kegaduhan tidak biasa di benaknya, dan semua hampir tertata indah untuk dilihat, tetapi tetap terasa kurang nyaman untuk deva. ia masih duduk diatas bangku besi panjang yang merengek menahan berat badan orang besar diatasnya. N...
Aku hanya cendawan yang sebentar mati tanpa keteduhan