Bukan lagi sejam lamanya ia menunggu, tapi sudah 2 jam setengah dan ia tak berbuat apa-apa, tak pula ia mengenal orang-orang disekitarnya, ia berjalan mondar-mandir memasang wajah bodoh, menghabiskan waktu, ia sengaja berangkat lebih awal karena kemarin ia sempat ketinggalan kereta, dan sekarang kereta yang harusnya telah tiba tak kunjung datang, -entah kenapa ?- hingga sempat berubah putus asa. deva namanya, ia menyilakan tangan diatas dada, duduk mencoba rileks kembali, wajahnya tak lagi kusam, kaki kanannya ia tangkaikan diatas paha kiri lalu sesekali memangku wajah sambil sengaja mengayun-ayun kaki.
Stasiun kereta api ini menjadi stasiun yang aneh dan indah di matanya, keramaian orang namun tetap tertib, tidak ada pedagang, tanpa kegaduhan tidak biasa di benaknya, dan semua hampir tertata indah untuk dilihat, tetapi tetap terasa kurang nyaman untuk deva. ia masih duduk diatas bangku besi panjang yang merengek menahan berat badan orang besar diatasnya.
Nama panjangnya Deva subha, sekarang ia diam ditempatnya rel besi didepannya menarik perhatiannya, "batang besi yang membuatnya kuat, terikat satu dan yang lainnya". Deva menaikan bibir menyimpulkan senyum, lalu tak sengaja tawanya terlepas, ia terbahak.
Nama panjangnya Deva subha, sekarang ia diam ditempatnya rel besi didepannya menarik perhatiannya, "batang besi yang membuatnya kuat, terikat satu dan yang lainnya". Deva menaikan bibir menyimpulkan senyum, lalu tak sengaja tawanya terlepas, ia terbahak.
"aku tidak membayangkan itu, bodohnya. haaahha" kata itu terlempar begitu saja.
Deva menyadari saat tatapan matanya berhenti seorang nenek cemberut menatapnya, yang benar saja bukan hanya nenek itu sekitar kanan kirinya ternyata menaruh pandangan aneh kepadanya dan spontan saja ia menurunkan badan lalu membuka senyum semenarik mungkin kepada mereka.
Deva menyadari saat tatapan matanya berhenti seorang nenek cemberut menatapnya, yang benar saja bukan hanya nenek itu sekitar kanan kirinya ternyata menaruh pandangan aneh kepadanya dan spontan saja ia menurunkan badan lalu membuka senyum semenarik mungkin kepada mereka.
"sin, sin". sesekali terdengar.
ia coba lupakan orang-orang itu, sambil mengusir satu cerita konyol yang baru saja terbayang di kepalanya dan bukannya malah hilang, malah satu persatu kekonyolan SMA itu, cerita-cerita itu seolah menariknya untuk lebih dari sekedar mengingat-ingat.
.....
"dari mana saja kau, di??" tanya deva.
"bang, teh botol dingin 1 yah" pinta ardi. ia mengusap dahi dan menenangkan nafasnya yang keluar terburu-buru.
"o iya, sorry deh w abis ngiter tadi. mana diki ama ilham, jangan-jangan belum sampe juga lagi?" jawab ardi melipat dahinya, deva tak membalas.
"woy !! enak aje, kita dateng paling dulu kali, ya dev!" seloroh diki mengagetkan. Ia keluar dari bawah peron sambil membalikan topinya kembali kedepan. ardi menengok kearah deva dengan wajah bertanya.
"ya" jelas deva
"ada yang ga beres nih, jangan-jangan" terka ardi sendiri.
"ya,
"ada yang ga beres nih, jangan-jangan" terka ardi sendiri.
"ya,
"trrt,,trret," getar handphone dalam saku deva. Ia mendapatkan pesan,"lagi dimana nak?".
hari ini matahari menjajahi langit begitu berani ia lepas semua sinarnya tanpa sanggup sesuatupun menutupi. Deva, diki, ilham, ardi, semua orang tau tentang mereka, apalagi mas waryo, karena memang selalu saja setiap pagi pedagang gorengan itu memulai aktifitasnya, di stasiun kereta api pasti menemukan mereka.
"siapa dev?" tanya ardi.
"ibu w kok yang sms"
"ibu w kok yang sms"
o
"turut tu turut tu"
"diki, sudah sampai mana
Comments
Post a Comment