Skip to main content

bukan aku, tapi kita

 Bukan lagi sejam lamanya ia menunggu, tapi sudah 2 jam setengah dan ia tak berbuat apa-apa, tak pula ia mengenal orang-orang disekitarnya, ia berjalan mondar-mandir memasang wajah bodoh, menghabiskan waktu, ia sengaja berangkat lebih awal karena kemarin ia sempat ketinggalan kereta, dan sekarang kereta yang harusnya telah tiba tak kunjung datang, -entah kenapa ?- hingga sempat berubah putus asa. deva namanya, ia menyilakan tangan diatas dada, duduk mencoba rileks kembali, wajahnya tak lagi kusam, kaki kanannya ia tangkaikan diatas paha kiri lalu sesekali memangku wajah sambil sengaja mengayun-ayun kaki.

 Stasiun kereta api ini menjadi stasiun yang aneh dan indah di matanya, keramaian orang namun tetap tertib, tidak ada pedagang, tanpa kegaduhan tidak biasa di benaknya, dan semua hampir tertata indah untuk dilihat, tetapi tetap terasa kurang nyaman untuk deva. ia masih duduk diatas bangku besi panjang yang merengek menahan berat badan orang besar diatasnya.

 Nama panjangnya Deva subha, sekarang ia diam ditempatnya rel besi didepannya menarik perhatiannya, "batang besi yang membuatnya kuat, terikat satu dan yang lainnya". Deva menaikan bibir menyimpulkan senyum, lalu tak sengaja tawanya terlepas, ia terbahak.
"aku tidak membayangkan itu, bodohnya. haaahha" kata itu terlempar begitu saja.
Deva menyadari saat tatapan matanya berhenti seorang nenek cemberut menatapnya, yang benar saja bukan hanya nenek itu sekitar kanan kirinya ternyata menaruh pandangan aneh kepadanya dan spontan saja ia menurunkan badan lalu membuka senyum semenarik mungkin kepada mereka.
"sin, sin". sesekali terdengar. 
ia coba lupakan orang-orang itu, sambil mengusir satu cerita konyol yang baru saja terbayang di kepalanya dan bukannya malah hilang, malah satu persatu kekonyolan SMA itu, cerita-cerita itu seolah menariknya untuk lebih dari sekedar mengingat-ingat.
.....
"dari mana saja kau, di??" tanya deva.
"bang, teh botol dingin 1 yah" pinta ardi. ia mengusap dahi dan menenangkan nafasnya yang keluar terburu-buru.
"o iya, sorry deh w abis ngiter tadi. mana diki ama ilham, jangan-jangan belum sampe juga lagi?" jawab ardi melipat dahinya, deva tak membalas.
"woy !! enak aje, kita dateng paling dulu kali, ya dev!" seloroh diki mengagetkan. Ia keluar dari bawah peron sambil membalikan  topinya kembali kedepan. ardi menengok kearah deva dengan wajah bertanya.
"ya" jelas deva
"ada yang ga beres nih, jangan-jangan" terka ardi sendiri.
"ya,

"trrt,,trret," getar handphone dalam saku deva. Ia mendapatkan pesan,"lagi dimana nak?".  
 hari ini matahari menjajahi langit begitu berani ia lepas semua sinarnya tanpa sanggup sesuatupun menutupi. Deva, diki, ilham, ardi, semua orang tau tentang mereka, apalagi mas waryo, karena memang selalu saja setiap pagi pedagang gorengan itu memulai aktifitasnya, di stasiun kereta api pasti menemukan mereka. 
"siapa dev?" tanya ardi.
"ibu w kok yang sms"

o
"turut tu turut tu"
"diki, sudah sampai mana

Comments

Popular posts from this blog

Identitas

Transformasi media adalah bentuk dari kemajuan peradaban manusia. Seperti tubuh, otak juga berkembang sepanjang berjalannya waktu. Kemajuan ini; ilmu pengetahuan, teknologi, media informasi, sudah semestinya terjadi. Karena dalam mata rantai kehidupan, hanya manusia seorang yang diberikan akal. Tidak lumba-lumba tidak binatang, hanya manusia dan yang lebih lagi bahwa setiap yang ada pada alam ini diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Allah berfirman: و في أنفسكم أفلا تبصرون “dan pada dirimu sendiri. Apakah kamu tidak memperhatikan” Ada manusia telah sampai ke bulan, mars, dan lebih dari itu dengan pesawat berkecepatan cahaya. Ya. Apa yang terjadi detik ini di afrika amerika bisa tahu. Ya. Namun secerdas apapun manusia tidak akan mampu menciptakan nyamuk. Kemampuan manusia dalam teknologi mutakhir adalah tugas manusia (imaratul ardh) dan kebahagiaan bagi manusia lainnya. Adapun masalah penciptaan adalah hak Allah. Manusia sering tidak mengakui identitasnya sebagai...

Guru

Dulu, ketika tengah bodoh-bodohnya, kepala sekolah Ust. Faruq (guru senior DNC) sering mengingatkan, khususnya dalam apel beliau menyusutkan Guru dalam akronim Digugu & Ditiru secara mutlak, seperti pencerahan buat setiap murid -selain sya- dan sentilan halus untuk yg lain. sekalipun kalimat itu terpatri di kedalaman tapi maknanya terbentur karna yg mampir kemudian adalah peribahasa usil, "guru kencing berdiri murid kencing berlari". *maaf, tapi memang ketololan saat itu sedang jadi-jadinya. 😅 . . Sekarang, dari sosoknya sedikitnya sya mengerti maksud itu. Guru (digugu & ditiru) karna Guru layaknya air merta jiwa, Guru adalah kebaikan yg amerta. Guru (digugu & ditiru) karna Guru layaknya figur dari jiwa yg suci, Guru adalah pewaris para Nabi. #Gurukupahlawanku #terimakasihguru #selamathariguru

AKU

Aku adalah aku Aku bukan dia Aku tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.. Aku bukan maksud ana selang penciptaan Aku adalah gemetar di keheningan Aku dipenggalan malam Aku adalah decakan tak termisal, Skala denyut kerinduan Aku.. Aku.. Aku Aku isyarat kepasrahan Aku bukan berarti apa-apa, Ketika aku ditandaskan, dunia ini hilang Hukum Ruang, waktu, lebur tak bersulang Aku.. Aku.. Aku Aku adalah keramat sufi Yang hidup dalam dimensi ketiadaan