Skip to main content

Dasar-dasar penciptaan alam

sesungguhnya Allah Subhanahu wata'ala sebelum menciptakan manusia, Allah telah mempersiapkan alam dengan sempurna yang akan menjadi tempat hidup baginya (manusia), mempersiapkannya dengan dasar-dasar yang tidak dapat dihindari kebutuhannya oleh manusia untuk kehidupannya. Akan tetapi, betapapun itu Allah telah meninggalkan kesempatan kepada manusia untuk peradaban dan kemajuan perkembangannya.  

Allah Subhanahu wata'ala telah menghendaki bahwa Ia menjadikan semua (unsur-unsur yang mendasar) Allah ciptakan untuk kehidupan manusia, sebagai contoh; air yang dengannya manusia minum bukan hasil dari usaha mereka (manusia) karena sesungguhnya Allah Subhanahu wata'ala turunkan air dari langit untuk memberi minum dan itu akan terjadi selamanya tanpa campur tangan manusia. Kita tidak pernah mendengar satu hari pernah hujan berhenti mengguyur bumi, dan atau kita bangun pagi-pagi dan melihat dunia tanpa air, pernah? tidak! karena demikian kenyataannya bahwa hujan bukan hasil usaha manusia akan tetapi bersifat alamiyah (yang tanpanya tak sempurna), dari uapan air laut yang naik lalu menebal dilapisan langit dan menjadi awan lalu tertiup oleh angin kesuatu tempat sesuai kehendak Allah Subhanahu wata'ala, ada awan yang terdorong oleh angin lalu bertabrakan dengan tingginya puncak gunung dan menetap dalam kedinginan diatasnya dan atau ada juga yang mengarah kesuatu tempat lalu meneduhinya dengan hujan.

Dan semua ini hanya atas keinginan (kehendak) Allah Subhanahu wata'ala, sekarang kita berpindah pada sesuatu yang lain yang nampak pada alam, seperti udara yang mengisi bumi dan atau makanan yang dengannya tumbuh dan atau matahari yang menampakkan sinarnya menyinari alam, dan sebagainya. Maka, akan kita dapati bahwa semua itu (komponen-komponen pokok) telah dipersiapkan menjadi layanan untuk manusia dan disediakan untuk kehidupannya.

Jadi unsur-unsur pokok (komponen-komponen dasar) yang dibutuhkan untuk kehidupan bukan hasil usaha manusia. Akan tetapi, manusia memanfaatkannya (menggunakannya) untuk membangun peradabannya dan meningkatkan (kemajuan) perkembangannya dan bisa kita pahami dengannya bahwa diciptakan alam untuk memuliakan kehidupan.

Comments

Popular posts from this blog

Identitas

Transformasi media adalah bentuk dari kemajuan peradaban manusia. Seperti tubuh, otak juga berkembang sepanjang berjalannya waktu. Kemajuan ini; ilmu pengetahuan, teknologi, media informasi, sudah semestinya terjadi. Karena dalam mata rantai kehidupan, hanya manusia seorang yang diberikan akal. Tidak lumba-lumba tidak binatang, hanya manusia dan yang lebih lagi bahwa setiap yang ada pada alam ini diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Allah berfirman: و في أنفسكم أفلا تبصرون “dan pada dirimu sendiri. Apakah kamu tidak memperhatikan” Ada manusia telah sampai ke bulan, mars, dan lebih dari itu dengan pesawat berkecepatan cahaya. Ya. Apa yang terjadi detik ini di afrika amerika bisa tahu. Ya. Namun secerdas apapun manusia tidak akan mampu menciptakan nyamuk. Kemampuan manusia dalam teknologi mutakhir adalah tugas manusia (imaratul ardh) dan kebahagiaan bagi manusia lainnya. Adapun masalah penciptaan adalah hak Allah. Manusia sering tidak mengakui identitasnya sebagai...

Guru

Dulu, ketika tengah bodoh-bodohnya, kepala sekolah Ust. Faruq (guru senior DNC) sering mengingatkan, khususnya dalam apel beliau menyusutkan Guru dalam akronim Digugu & Ditiru secara mutlak, seperti pencerahan buat setiap murid -selain sya- dan sentilan halus untuk yg lain. sekalipun kalimat itu terpatri di kedalaman tapi maknanya terbentur karna yg mampir kemudian adalah peribahasa usil, "guru kencing berdiri murid kencing berlari". *maaf, tapi memang ketololan saat itu sedang jadi-jadinya. 😅 . . Sekarang, dari sosoknya sedikitnya sya mengerti maksud itu. Guru (digugu & ditiru) karna Guru layaknya air merta jiwa, Guru adalah kebaikan yg amerta. Guru (digugu & ditiru) karna Guru layaknya figur dari jiwa yg suci, Guru adalah pewaris para Nabi. #Gurukupahlawanku #terimakasihguru #selamathariguru

AKU

Aku adalah aku Aku bukan dia Aku tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.. Aku bukan maksud ana selang penciptaan Aku adalah gemetar di keheningan Aku dipenggalan malam Aku adalah decakan tak termisal, Skala denyut kerinduan Aku.. Aku.. Aku Aku isyarat kepasrahan Aku bukan berarti apa-apa, Ketika aku ditandaskan, dunia ini hilang Hukum Ruang, waktu, lebur tak bersulang Aku.. Aku.. Aku Aku adalah keramat sufi Yang hidup dalam dimensi ketiadaan