Matahari yang tadi membara kini cepat menerobos waktu. Sekelebat berada diujung khatulistiwa merubah posisi menjorong ke barat membentuk bayang-bayang disetiap benda yang dilalui. Dya melamun. Matanya singit terpancar rahasia yang amat mendalam. Ia menyongsong alam. Melebarkan pandangannya menjurus panaroma. Batinnya kacau. Pikirannya error. Ia gusar. Dya berusaha menepis kegundahan seperti mencari lubang kecil disekitar batu besar. Namun, pikirannya terganjal. Ia terkepung trauma yang menyedihkan memaksanya untuk bertekuk lutut pada Tuhan. Dya tau itu tak akan mungkin. Ia tak mungkin mampu. Bebannya terlalu berat untuk anak seusianya. Ia baringkan tubuhnya terlentang menghadap langit. Dibawah keteduhan awan, ia terpejam. Dya melemaskan tubuh sekuat tenaga berusaha untuk kabur dari masalah yang menekannya. Dua hari lalu. Minggu ceria, anak-anak libur sekolah para ayah menyiapkan libur keluarga tanpa disadari bencana melanda tempat kelahirnya sebelum semua rencana terjadi dengan...
Aku hanya cendawan yang sebentar mati tanpa keteduhan