Skip to main content

Senandung Rindu

Matahari yang tadi membara kini cepat menerobos waktu. Sekelebat berada diujung khatulistiwa merubah posisi menjorong ke barat membentuk bayang-bayang disetiap benda yang dilalui. Dya melamun. Matanya singit terpancar rahasia yang amat mendalam. Ia menyongsong alam. Melebarkan pandangannya menjurus panaroma. Batinnya kacau. Pikirannya error. Ia gusar. Dya berusaha menepis kegundahan seperti mencari lubang kecil disekitar batu besar. Namun, pikirannya terganjal. Ia terkepung trauma yang menyedihkan memaksanya untuk bertekuk lutut pada Tuhan. Dya tau itu tak akan mungkin. Ia tak mungkin mampu. Bebannya terlalu berat untuk anak seusianya. Ia baringkan tubuhnya terlentang menghadap langit. Dibawah keteduhan awan, ia terpejam. Dya melemaskan tubuh sekuat tenaga berusaha untuk kabur dari masalah yang menekannya.

Dua hari lalu. Minggu ceria, anak-anak libur sekolah para ayah menyiapkan libur keluarga tanpa disadari bencana melanda tempat kelahirnya sebelum semua rencana terjadi dengan indahnya. Subuh pagi yang tak seelok biasanya 10 menit saja gempa mengoyak tanahnya seketika pula lantak semua keindahan pagi dan banyak setelahnya seperti tak lagi melihat dunia. Dya salah satu dari sekian korbannya ia adalah seorang anak berumur 10 tahun lahir dari tanah ini tulen, keturunan batak dalam kelompok yang dikenal primitive. Suku yang selalu digunjingkan. Yang terlampir adalah hanyalah gambaran kelam sebuah suku primitive yang jauh dari lingkungan luar. Tidak beradab. Mereka mengasingkan diri tak jauh dari jantung hutan dengan gaya hidup lama. Mereka terisolasi dan menggantungkan hidup selamanya kepada alam. Kebanyakan bertani dan berkebun.

Dya membuka mata. Tatapannya semakin menajam. Dahinya menyerngit mengobarkan api kemarahan. Kegundahan menjalar disetiap titik syaraf. Ketidak puasan membuatnya merasa terpuruk dalam takdir yang begitu kejam menamparnya. Pikirannya melayang. Wadahnya tak kuat lagi menampung lalu meluber melalui matanya yang sedu.

“AaAAAARRRKKKKKhhhhhh”. Ia berhak mengeluarkan segalanya. Semua urat kesedihannya ia bocorkan kepada alam.

Suaranya kian parau ia cukup puas. Hatinya terasa lebih ringan. Ia menyeka air matanya. Bola matanya berkaca berbinar memantulkan matahari senja. Badannya lemas luapannya seperti diterima alam. Semilir angina mengayun menyuguhkan kesegaran. Pepohonan ikut bersimpati berkolaborasi bersama angin seolah menghibur. Cicitan burung, gemerisik ilalang menghentikan tangisnya. Matanya sembap. Dya menyisakan isak yang berangsur pelan. Air matanya mungkin habis wajar saja 3x sehari sejak kemarin ia melakukan hal ini.

Mukanya lusuh dihidungnya mengeluarkan air dan terkadang membuat nafasnya tersendat. Sisa-sisa air mata, ia hapus dengan kerahnya yang lembab. Ia mendengus pelan dari matanya terpampang jelas untaian harap. Bibirnya menipis dengan harapan luas ia merekahkan jemarinya mengangkatnya keatas. Meneduhkan. Ia kepalkan tangan membangkitkan sisa energinya. Bibirnya melebar lalu senyuman damai terlempar  seolah menggapai sebuah kemenangan.

“Terima kasih Tuhan, aku sayang ayah, bunda” desahnya.

Ia tulis dalam bukunya lalu ia ulangi kata-kata itu berkali-kali hingga tertancap didasar sanubari. Mengepak sebagai acuan.

Dengan perlahan Dya berdiri. Bahunya ditumpu sebuah tongkat dari kayu yang telah diserut dan bercabang. Dya melekatkan ketiaknya diantara 2 cabang. Tangannya menggenggam erat pegangan ditongkat lalu perlahan mengayunkan tongkat melangkah mendongakkan kayu diatas tanah rata. Dya harus teliti mencari tepakan agar tidak tergelincir. Ia menyusuri jalan setapak yang sedikit menurun. Tetap melangkah pelan. Sesekali dya mengaduh, ngilu kakinya yang belum sembuh. Hanya ini tongkat benda berharga yang ia miliki.

Di ketiak kanan dya menjaga erat sebuah buku bersampul putih tertulis namanya sebagai tanda kepemilikan. Buku yang kemanapun selalu ia bawa, ia urus dengan perhatian besar. Dya mengeratkan bukunya agar tidak jatuh dan terlempar. Sesekali ia berjalan menunduk menghindari dahan-dahan pohon yang menjuntai. Dya mengedarkan pandangannya mengawasi jalan, tanah yang rusak dan berlubang. Bukunya masih tertanam erat didalam ketiaknya dengan sabar melangkah tap, tap, tap, meletakkan jejak diatas permukaan tanah yang basah. Dya melewati segerombol ilalang yang luas lalu menjurus turun kejembatan. Dikejauhan terlihat tenda-tenda besar berwarna loreng mengepulkan asap pekat di udara. Tenda didirikan membentuk letter U diatas sisa tanah yang lantak. Tali-tali putih melingkar disisi tenda menjalur saling menyambung. Dya mengatur nafas dalam-dalam mengalirkan oksigen keseluruh bagian tubuhnya yang lelah, dadanya engap. Ia kegerahan.

“Diyaa…….!” Teriak seseorang dikejauhan.

Wajahnya tak nampak begitu jelas tapi suaranya melengking bersautan disetiap penjuru. Dari suaranya dya sudah tau. Ia sudah hafal pasti Ka Husen ya karena memang suaranya berbeda. Berlogat medok yang kadang membuat orang tertawa. Aneh mendengarnya.

Ia bukan orang asli sini. Ia hanya seorang relawan salah satu anggota SAR yang datang untuk membantu sekaligus mencari korban-korban dari keluarga yang belum ditemukan. Dya juga minta bantuannya untuk meemukan jasad keluarganya. Ka Husen masuk kategori tampan. Ia memiliki hidung mancung, bermata cokelat, kulitnya juga putih yang lebih unggulnya ia begitu baik. Tongkat itu ia yang berikan. Semua pengungsi pasti mengenalinya.

“hati-hati!! Tunggu aku disana!” tegasnya. Ia khawatir dan berlari lebih cepat. Dya menatap Ka Husen sambil tersenyum.

Ka Husen sudah didepannya nafasnya naik turun terpasang muka was-was digaris wajahnya. Ia sangat baik pada dya. Kata orang lain ketika mendengar cerita tentangnya ia begitu terharu.

“kasihan sekali anak ini” tanggapnya dalam hati. Ka Husen langsung berada disamping dya membantunya.

“Sudah kubilang kau harus bilang padaku kalau ingin jalan-jalan” cemas Ka Husen.

“Aku ketempat biasa kok ka” jawab Dya

“Ya, tapi kondisimu belum 100% baik” jelas Ka Husen lembut. Dya hanya diam. Ia mengaku salah.

“Dya, ada seseorang yang ingin aku kenalkan padamu” Ka Husen mengganti tajuk. Dya hanya memberi senyum tipis.

Mereka menyebrangi jembatan, ka Husen memegang dya kuat-kuat jembatannya menggetar. Perlahan mereka menyusuri jembatan bamboo yang kadang juga merengek ketika ditapaki.

“Siapa dia Ka??” dya menatap Ka Husen yang begitu hati-hati membawanya.

“krrek” Gemeretakan bamboo menyertai pembicaraan mereka. Cukup panjang memang jembatan ini.

“Nanti juga kau akan tau! Sekarang yang terpenting kita cepat kepengungsian” resah Ka Husen.

Dya mengangguk melangkah berirama dengan ka Husen. Dya melangkah lebih ringan. Sesekali juga ia menggigit bibir menahan kakinya yang masih terasa ngilu tapi ia tetap diam. Seperti biasa, tak berekspresi. Tak menampakan kesakitannya pada Ka Husen.”biar wanita, aku tak boleh jadi lembek, tetap tahan dya simpan rasa itu”gumamnya dalam hati.

Dya meluruskan kakinya duduk di pelataran. Di depan tenda. Ia sandarkan tongkatnya pada tiang penyangga yang berada di belakangnya lalu membuka bukunya. Dya mengebet halaman demi halaman mencari lembar kosong. Ia tersenyum. Bolpoint menggantung dilehernya. Dengan seksama, dya menatap halaman kosong dan menuangkan segalanya membiarkan ballpoint menari disecarik kertas tersebut.

“Tuhanku  terima kasih selalu pada-Mu karena Kau telah anugrahkan keluarga baru, orang sekitar yang baik kepadaku”. Tulisnya. Mengulurkan lara yang menyekap di kedalaman hati. Dengan sergap laju darahnya berjalan cepat. Ia gugup. Seorang wanita tinggi mendekatinya ia mengibas rambut pirangnya kebelakang. Lalu wanita itu menunduk setara dengan Dya. Dya melongok kaku.

“Ade, sedang apa?” Tanya wanita itu.

Dya menutup buku dan mendekapnya dengan erat sambil bergeser menjauhi wanita itu. Orang yang belum dikenalnya. Wanita itu berusaha menyentuh dya. Ia berniat mengelus tangan membuat dya tenang. Belum sampai maksud wanita itu. Dya berontak langsung mengapit bukunya dan menyambar tongkat yang ia sandarkan.

Tangan yang pendek membuat dya tak kuasa menggapainya. Dya meraung pedih. Kakinya terasa ngilu seperti ditarik. Dya mengelus kakinya lembut. Matanya reflek terpejam. Mengadu. Wanita itu tersungkur tanpa disengaja. Terdorong.

“adik, kamu kenapa?” wanita itu tersentak.

Wanita itu kembali mendekat ia merubah posisinya duduk sejajar dengan Dya. Tetap disampingnya merambatkan kasih sayang. Ia mengelus rambut dya. Wanita itu membelai  membuatnya diam. Aura keibuan menjalar kedadanya ia merasakan sesuatu yang pernah ia rasakan. Kedamaian. Dya mulai luluh. Ia menyadari bahwa wanita didekatnya itu orang baik tapi tetap ia tak bersuara. Wanita itu mendirikan tongkat yang terkulai dibelakangnya lalu mendirikan seperti sebelumnya. Lalu tersenyum Lesung pipinya terlihat dalam keanggunan yang menyulitkan pria berkedip.

“boleh kita kenalan?” wanita itu menjulurkan tangannya. Wanita itu memang tak pernah ia lihat sebelumnya. Dya mengangguk lalu menjemput salamnya.

“aku Lia!”

“aku Diya!” mata lia memancarkan uraian yang sulit dipahami. Semakin tatapan itu dilihat lama memperlihatkan kejernihan hatinya. Dya sedikit mengangguk tapi tetap diam. Ia mencermati wanita itu lebih focus lagi. Wanita itu yang pertama dya lihat. dia bukan orang sini.

“hei kalian sedang apa?” ka husen datang mengejutkan. Ka Husen merunduk meyetarakan dirinya.

“oh iya! bu, ini dya yang ingin saya kenalkan!” kata ka husen.

“iya, saya sudah tau” jawab bu lia.

“ooh kalian sudah saling kenal! Lho kok kamu diam begitu dya?” lirik ka husen.

“ada masalah” lanjutnya. Dya menggeleng. Dya meraih tongkatnya. Mukanya meringis ia sedang berusaha berdiri. Ka husen mencoba membantu tapi dya mengelak.

Sebuah sirine mendengung. Mobil-mobil pemberi sumbangan berdatangan ka husen dan bu lia saling menatap.

" Ini saatnya makan dan kamu gak boleh telat makan"suruh ka husen.

“ya, karena tubuhmu butuh banyak energi” pesan bu lia. Ia seorang dokter, relawan juga. Baru dan ia terlalu muda untuk sebutan ibu.

“ya, aku ingin makan” sontak dya. Ka husen dan bu Lia memiarkannya dan mengahampiri mobil-mobl itu. Dya, ia ikut bergabung dengan yang lain. Masuk kedalam kerumunan orang banyak yang asyik berbincang. Dya berbanjar mengikuti antrean bersama dengan para pengungsi lain yang tak semua ia kenal. Dya mendekat ketengah karena ini jalur untuk mengambil makanan lebih cepat.

"diiyaa" panggil seorang anak sesuisianya, ia mendekat. Kepala anak itu terbaluti perban tebal.

"iya, sini masuk antrian di depanku" seru diya memberi ruang didepannya.

"kamu sudah tau belum??" tanya sahabatnya itu.

"apa?" tanggap dya.

"kita kedatangan dokter baru, cantik, lembut, baiiiiikk banget" jelasnya gembira.

"iya, siapa??" tanya diya penasaran.

"jadi kamu belum tau?" jawab temannya berbalik menatapnya.

"namanya bu lia, nanti juga kamu tau sendiri" sambungnya membawa senyum.

“Tempat Pembagian Makanan” sebuah tulisan hitam menggantung.

Memang benar disana berjejer meja-meja besi persegi panjang yang diatasnya bertumpukan makanan. Tidak hanya makanan ada kardus-kardus air minum, obat-obatan, sampai pakaian yang dibungkus plastik besar yang menggumpal. Dan semua adalah bantuan dari para dermawan di daerah lain. Entah dari daerah mana.

“darimana ya, mereka mendapatkan semua barang ini?”Tanya sahabatnya.

“Mungkin dari suatu tempat yang jauh dari desa”pikir dya.

“pasti jauuh deh” tukas ria menambahkan.

“banyak sekali, ya” sambung ria.

“yang jelas mereka itu orang-orang baik” sambut dya mendukung. Dya hanya bersyukur. sambil memejamkan mata ia mengucapkan “Alhamdulillah” itu yang Dya ingat. Yang selalu diajarkan ibu bapaknya.

Bu lia mencermati dari kejauhan. Wanita itu seorang dokter sekaligus psikolog anak ia mencoba memantau kegiatan korban-korban bencana khususnya yang masih anak-anak. Sesekali ia memotret sudah beberapa gambar yang ia ambil. Bu Lia kian mengamati dengan penuh. Kali ini ia sedang memperhatikan dya, Ia terjuru pada buku yang selalu Dya bawa sekaligus ingin sekali mengetahui apa isi buku kusam tersebut.

Dya telah selesai makan. Sebenarnya sudah sejak tadi. Tapi, ia asyik meneruskan perbincangan dengan Ria tentang tempat para dermawan itu. Banyak bayangan tentang itu sampai akhirnya mereka memutuskan suatu hari nanti untuk pergi kesana. Selesai dengan hayalan kota. Mereka berpisah. Dya memutuskan untuk menyendiri ia suka kesunyian. Ia duduk dipojok tenda. Duduk termangu menghadap ke barat kearah bukit. Layangan pikirannya masih tentang kota itu. Tapi seperti biasa Dya menyandang buku lalu dengan pelan membukanya. Bu Lia berada sekitar 3 M dibelakangnya. Ia bergerak waspada. Genggaman penasaran membuatnya ingin semakin mendekat.

“sedang apa diya?” Tanya ibu sambil lurus mengintip dalam kamera.

Bu Lia berhenti didekatnya. Memutar-mutar ujung kamera, memiringkannya. Mencari gambar terbaik. Ia hadapkan kamera pada diya.

"diya"

"ck" gambar diya terambil.

“aku hanya ingin melihat bukit. Pemandangannya bagus” hindar dya.

Bu lia tau keadaannya lalu ikut duduk bersama. Dya enggan menoleh ia hanya melemparkan pandangan pada bukit.

“indahnya. Indah sekali ya!” hibur bu lia. Tapi benar-benar luar biasa alam disana. Terjaga dari tangan-tangan perusak menumbuhkan kepercayaan kuat tentang keesanNya

“boleh aku pinjam bukumu” buku itu tidur dipangkunya.

“ya tak apa”  Dya membolehkan. Ia mengangguk.

Bu lia menaruh buku lusuh itu juga di atas pangkunya. Ia buka perlahan. Lembar-lembar kusam. ia mencoba memahami. dya menghela nafas dalam. Bu lia masih mengulas bait-bait didalamnya. Halaman-halaman ia pelajari dengan matang. sesekali bu lia tersentak lalu tersenyum.

“itu ayah dan itu ibuku. Aku sendiri yang menggambarnya” suaranya sedikit parau. Padahal gambarnya tak juga bagus. Bu lia mencermati tiap halaman membalik-balik.

”semua ini tulisan kamu nak?” Tanya bu lia tertegun. 

Dya sebatas mengangguk. Kertas putih yang kusut yang pudar hingga kecoklatan membuat bu lia lebih jeli membaca. Bu lia selesai walau banyak yang tidak iamengerti tapi setidaknya ia tau isi buku itu.

Bu lia selesai, ia tutup buku lusuh itu, debunya menghempas. Lalu menghadap ke samping menatap Dya simpati, sesuatu yang tak ia pahami tapi jelas sebuah jeritan hati. Ia ikut mengedarkan pandangan ke bukit. Kaca matanya terlihat agak buram. Bu lia melepaskan kaca matanya. Ia bawahkan. Ditanah selembar kertas tergulai disapa angin, kertas itu tak berpindah hanya bergerak-gerak. Kertas yang begitu kusam lebih dari sebelumnya.

Bu lia kembali  membuka buku tersebut. Pikirannya benar itu sobekan halaman pertama. Bu lia memungutnya lalu ia dekatkan kematanya. Bu lia tak mengerti tulisan itu begitu buram. Begitu sulit dibaca. Tulisan yang kusut dan tak rapih. Bu lia kembali memasang kaca matanya dengan baik-baik. Ia pacu indra penglihatannya syaraf matanya mengembang. Tiap huruf ia eja kemudian ia bentuk kata demi kata. Menyatukan menjadi kalimat. Wajah bu lia pucat pasi, parasnya membias. Ia terjerembap kaku seketika kaca matanyapun bertambah embun. Kalimat yang ditulis begitu menyesakannya. Emosi yang memilukan.

“aku rindu ayah dan ibu, semoga mereka di atas kasihMu Ya Allah”

Bu lia benar-benar menangis tersedu sambil mendekap dya yang tanpa ia tau telah berlinang sebelumnya. Ka husen melihat mereka sejak tadi. Dengan payah ia berdiri.  

Comments

Popular posts from this blog

Identitas

Transformasi media adalah bentuk dari kemajuan peradaban manusia. Seperti tubuh, otak juga berkembang sepanjang berjalannya waktu. Kemajuan ini; ilmu pengetahuan, teknologi, media informasi, sudah semestinya terjadi. Karena dalam mata rantai kehidupan, hanya manusia seorang yang diberikan akal. Tidak lumba-lumba tidak binatang, hanya manusia dan yang lebih lagi bahwa setiap yang ada pada alam ini diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Allah berfirman: و في أنفسكم أفلا تبصرون “dan pada dirimu sendiri. Apakah kamu tidak memperhatikan” Ada manusia telah sampai ke bulan, mars, dan lebih dari itu dengan pesawat berkecepatan cahaya. Ya. Apa yang terjadi detik ini di afrika amerika bisa tahu. Ya. Namun secerdas apapun manusia tidak akan mampu menciptakan nyamuk. Kemampuan manusia dalam teknologi mutakhir adalah tugas manusia (imaratul ardh) dan kebahagiaan bagi manusia lainnya. Adapun masalah penciptaan adalah hak Allah. Manusia sering tidak mengakui identitasnya sebagai...

Guru

Dulu, ketika tengah bodoh-bodohnya, kepala sekolah Ust. Faruq (guru senior DNC) sering mengingatkan, khususnya dalam apel beliau menyusutkan Guru dalam akronim Digugu & Ditiru secara mutlak, seperti pencerahan buat setiap murid -selain sya- dan sentilan halus untuk yg lain. sekalipun kalimat itu terpatri di kedalaman tapi maknanya terbentur karna yg mampir kemudian adalah peribahasa usil, "guru kencing berdiri murid kencing berlari". *maaf, tapi memang ketololan saat itu sedang jadi-jadinya. 😅 . . Sekarang, dari sosoknya sedikitnya sya mengerti maksud itu. Guru (digugu & ditiru) karna Guru layaknya air merta jiwa, Guru adalah kebaikan yg amerta. Guru (digugu & ditiru) karna Guru layaknya figur dari jiwa yg suci, Guru adalah pewaris para Nabi. #Gurukupahlawanku #terimakasihguru #selamathariguru

AKU

Aku adalah aku Aku bukan dia Aku tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.. Aku bukan maksud ana selang penciptaan Aku adalah gemetar di keheningan Aku dipenggalan malam Aku adalah decakan tak termisal, Skala denyut kerinduan Aku.. Aku.. Aku Aku isyarat kepasrahan Aku bukan berarti apa-apa, Ketika aku ditandaskan, dunia ini hilang Hukum Ruang, waktu, lebur tak bersulang Aku.. Aku.. Aku Aku adalah keramat sufi Yang hidup dalam dimensi ketiadaan