Kita dengan akal yang kita miliki tidak akan mampu menyebut Allah Ta'ala sebagai pencipta alam, tidak juga akan mengetahui maksud dari penciptaan. Karena sebab itulah, demikian Rasul diutus yaitu untuk mengajari semua itu, inilah kepentingan diutusnya seorang Rasul. Maka dari itu, wajiblah atas kita (manusia) menyambutnya dengan gembira, dan membantunya bukan malah mendustainya bahkan memeranginya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan dalam Al-qur'an (lihat : surat al-'Alaq : 6-7) tentang sikap manusia yang menjelaskan watak dan tabiatnya.
6. Ketahuilah! sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,
7. Apabila melihat dirinya serba cukup.
Ketika manusia (kita) mendapatkan banyak nikmat, nikmat-nikmat itu justru membatasinya (membuat lupa), ia tak bertanya sumbernya (darimana datangnya?) cukup menikmatinya kemudian merasa seakan nikmat itu haknya (seutuhnya). Hasil dari jerih payahnya. Begitulah manusia, kita hidup dengan banyak nikmat dan melupakan pemberi nikmat. Karena itu, ketetapan Allahlah untuk menjauhkan kita dari nikmat-nikmat.
Kita saksikan tempat-tempat yang tidak dituruni hujan, begitu tandus dan gersang. Hujan itu adalah nikmat. Hingga kita temui adanya pencipta yang membuat (nikmat) hujan itu tunduk. Kita manusia ya, terlalu lemah untuk menguasai hujan, membuatnya turun disini tidak turun disana ataupun sebaliknya. Maka dari itu, wajib untuk kita (manusia) untuk menghadapkan diri (menyembah) kepada pemberi nikmat itu dan bukan malah menyembah hujan (nikmat) itu sendiri. Lalu, ketika terjadi musim panas, sumur-sumur mengering, air-air sungaipun surut, wajiblah bagi kita (manusia) menghadapkan diri kepada Sang Pencipta Pemberi nikmat. Dan ketika itulah, mereka (orang-orang yang lalai) menyadari bahwa segala sesuatu pada alam ini tidak terjadi dengan sendirinya akan tetapi atas perintah tuhan. Lalu, barulah ia mengakui bahwa Allahlah pemberi nikmat kemudia ia menghadapkan diri padaNya. Memang begitulah manusia ketika keadaan darurat ia tidak membohongi dirinya.
Sebagian orang bertanya : kenapa ketika hujan tidak turun, kita mendirikan sholat istisqa'? apa hubungannya sholat dengan tidak turunnya hujan (fenomena alam)?
Syeikh Muthawalli Asy-Sya'rawi menjawab: sesungguhnya sholat adalah untuk menghadap kepada sang Pencipta yang membuat fenomena tersebut, Allahlah yang mengadakannya, Ia melakukannya dengan kehendakNya dan fenomena itu tidak terjadi tanpa kehendakNya, Allah atas kehendakNya bisa saja membiarkan hujan tidak turun sebentar saja atau mungkin dalam waktu panjang. Mungkin saja, karena semua kehendak di tangan Allah. Namun, terlepas dari semua itu adalah untuk menunjukan manusia kepadaNya. Yang menciptakanNya.
Bisa kita simpulkan dari sini bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala mengarahkan kita (manusia) kepadaNya dengan tidak membuat alam ini menjadi tidak stabil seperti membuat sesuatu pada alam berhenti, contohnya: hujan, atau sehari saja langit tanpa matahari dll. Allah tidak menghendaki yang demikian itu. Karena akan merusak stabilitas alam, Allah bisa saja melarang matahari terbit dari timur atau mejadikan bumi tanpa udara dan seluruh manusia tidak bisa bernafas. Tetapi sekali lagi, Allah tidak menghendaki yang demikian itu. Karena dapat menjadikan alam ini tidak seimbang. Bahkan merusak keseluruhnya. Jadilah, adanya Rasul tidak dapat dihindari agar supaya mengajari kita (manusia) agar ia dapat mengetahui siapa yang telah menciptakan alam ini?, dan apa yang diinginkan sang Pencipta Allah Ta'ala dari kita (penciptaanNya)?.
Untuk menjadikan risalahnya sempurna, seorang rasul yang diutus wajib dari jenis ia diutus. Karena tugasnya adalah penyampai juga sebagai contoh dalam penerapan manhaj. Maka, wajiblah seorang rasul dari jenis umatnya. Jika tidak maka tidak cocok. Syeikh Muthawalli as-Sya'rawi mengatakan (untuk mereka yang menuhankan seorang rasul),"jika kalian katakan rasul adalah tuhan, maka tidak cocok risalahnya, karena jika ia menyuruh kalian (manusia) untuk mengambilnya yaitu untuk dijadikan contoh dan kalian (manusia) mengikutinya. Lalu kalian lakukan apa yang ia lakukan. Kalian pasti akan mengatakan padanya bahwa kau telah membebani kami di atas kemampuan kami, sungguh kami tidak bisa melakukan sepertimu, karena kau tuhan dan kami manusia, kau mempunyai kemampuan yang kami (tak bisa) lemah tentangnya, kita tak bisa sejalan". Oleh karena itu, wajib seorang rasul adalah (manusia) sejenis dengan kaumnya agar cocok risalahnya dan menjadi penyampai serta contoh bahkan memungkinkannya bertemu dengan kaumnya, ia bisa berbicara dengan umatnya dan begitupun sebaliknya.
16. Dan tidaklah kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di atara keduanya dengan bermain-main
17. Sekiranya kami hendak membuat suatu permainan, tentulah kami membuatnya dari sisi kami. Jika kami menghendaki berbuat demikian, (tentulah kami telah melakukannya).
Jadi, Allah memang tidak menciptakan alam ini sia-sia, akan tetap mempunyai kepentingan. Begitu juga Allah tidak menciptakan manusia dengan percuma atau sia-sia.
Allah subhanahu wa Ta'ala telah menetapkan sebuah manhaj untuknya (manusia) seperti telah ada tentangnya di dalam al-Qur'an (lihat, surah ar-Rahman:1-4).
Allah subhanahu wa Ta'ala telah menetapkan sebuah manhaj untuknya (manusia) seperti telah ada tentangnya di dalam al-Qur'an (lihat, surah ar-Rahman:1-4).
1. (Rabb) yang Maha Pengasih, 2. Yang telah mengajarkan al-Qur'an, 3. Dia menciptakan manusia, 4. Mengajarnya pandai berbicara
Kita memukan 'al-Qur'an' lebih dulu sebelum kata 'al-insaan' yaitu karena al-Qur'an adalah manhaj untuk diterapkan oleh manusia dalam kehidupannya. Manusia tidak mungkin mengetahui dan mencapai tujuan (hidup) di dunia kecuali setelah ditentukannya manhajnya (diminta untuk apa?). Begini saja, sebelum kita membangun sebuah sekolah maka wajib kita memiliki perhitungan telebih dahulu: pertama, apa visi dan misinya? lalu bagaimana metode pengajarannya? berapa jumlah murid setiap kelas? kemudian apa jurusannya? barulah setelah itu, kita bangun sebuah sekolah dan memastikan berjalan sesuai yang telah diperhitungkan. Maka, terbangunlah kelas-kelas yang luas untuk jumlah murid yang besar atau kelas-kelas dengan ukuran murid terbatas. Kemudian melengkapkan dengan ruang laboratorium untuk praktek. Lain halnya, apabila kita membuat bangunan tanpa perhitungan, tanpa tujuan. Maka yang terjadi bangunan tersebut tidak cocok, tidak pas bahkan jadi tidak bermanfaat. Contoh lain, sama halnya jika kita ingin membangun sebuah apartemen, maka terlebih dahulu memiliki perhitungan dulu kita ingin apartemen yang mewah atau sederhana, setiap pintu terdapat berapa kamar, karena jelas beda pondasi apartemen mewah dengan 4 kamar tiap pintu dengan apartemen sederhana dengan 2 kamar di setiap pintunya, bukan??.

Comments
Post a Comment