reza pulang terlalu larut, sejenak ia terdiam dimobilnya sebelum benar-benar terlalu berani bertemu sang istri. sungguh hari yang melelahkan. ia berjalan lunglai melewati pintu membayangkan esok. daun pintu ia buka perlahan. lampu ruang tamu padam "sela" panggilnya sambil menyalakan lampu. tak ada jawaban ini memang sudah lewat dari tengah malam, ia memandang lama mengamati poto-poto mesra yang menggantung. "ah" reza berlalu menuju kamarnya ia hanya ingin segera menemui istrinya.
ya sudahlah, sela sudah jauh dibuai mimpi reza duduk ditepian kasur dan perlahan merebahkan badannya urat matanya menebal. ia menatap atap kosong dihadapannya. ini malam yang terpanjang baginya, tadi baru saja ia dipecat dari perusahaan. entahlah, sulit dijelaskan kenapa? dan apa yang ada dikepalanya terlalu suram untuk dituliskan. ia coba tidur, berulang kali membenamkan mata, memiringkan tubuhnya ke kanan, ke kiri, sayang sekali tak berguna ia hanya harus menyiapkan kata yang tepat untuk esok.
matahari terlalu terburu-buru, semburatnya merayapi jendela, sayup-sayup mengisi ruangan, reza memiringkan badan menghadap istrinya, menatapnya dalam-dalam hatinya bergelumat ada sinar yang ditangkap dari ingatannya tentang senyumnya, suaranya, pancaran matanya penggalan-penggalan yang menyeret semangat seketika gairahpun menggelora, sebuah ruh seperti ditiupkan kembali dan ia tau pagi ini memang tak secerah kemarin, tapi ia tak peduli, ia tak peduli seberapa buruknya pagi karena ia selalu memiliki sela. matahari.
"ooaahh" sela terbangun, seolah tertidur reza mengintip dari bulu matanya yang tipis.
"ooaahh, selamat pagi" seloroh reza.
"pagi juga" lembut sela seluruh hati.
"kamu tidur masih pakai baju kerja" sambung sela meninggi. reza langsung bangun dan beranjak ia tertawa dari balik hati ia berkata "terima kasih"
..
hidup memang tak disangka alurnya, 3 bulan setelahnya pasangan inipun dikaruniai seorang putri, maskawin telah digadai untuk menonggak persalinan, satu beban lagi tertanam, suami mana yang bisa tinggal diam "sela, aku siap berpeluh merelakan waktuku asal rumahku tetap hangat" tegas reza. tapi kenyataan tak semudah itu, reza mulai mabuk orang bilang ini membantu, keadaan semakin tak karuan puncaknya saat musim dingin, ketika semua orang berlindung dibawah atap berkumpul dekat tungku, reza pulang wajahnya tak terlihat mesra, garang bak si naga.
"hendak kemana kau pergi" pelan sela melihat reza mengemas barang.
"kemanapun aku pergi,bukan urusanmu"
sela sempat menghadang, percuma reza mempitam sela dicampakkan, dibiarkan tergolek begitu saja dan rezapun pergi.
......
5 musim berlalu, sela sedang bercengkrama dengan putri sulungnya melisa, bermain ayunan tua yang menggantung di atas phoan oak, sore yang indah tersingkap, tawa melisa yang membaur dengan sambungan senja. memenuhi hati. seorang bersepeda menghampiri mereka, tukang pos.
"selamat sore"
"iya sore"
"dengan bu sela"
"iya"
"ada surat untuk ibu"
"oh terima kasih"
sela menyobek sampul surat, dari reza oh sela terhanyut. berdecak gugup.
"Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku. Namun jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kau menyatakannya? Ikatlah sebuah pita kuning pada satu-satunya pohon beringin besar di kota kita itu jika kamu masih mau menerimaku kembali. Apabila aku lewat di beringin itu dan tidak menemukan pita kuning yang diikat, tidak apa-apa. Aku mengerti. Aku tidak akan turun dari bis dan akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji untuk tidak akan mengganggumu lagi dan anak-anak seumur hidupku.”
......
ternyata reza 5 musim kemarin ia pergi kekota, ia sempat kaya sebelum akhirnya dibuih 3 tahun karena bisnis haram. hari ini adalah hari pelepasannya, ia telah mengirim surat sebelumnya. ia menunggu beberapa jam sebelum keluar gerbang penjara. hatinya gelisah, menunggu balasan suratnya, tapi tak kunjung ada ia bahkan tak tau kalau suratnya sampai atau tidak.
reza menaiki bis menuju ke Miami, Florida, yang akan melewati kampung halamannya, White Oak. suasana hati tak tentu, antara cemas dan harap. bis menghempaskan angin cepat, rasa gugup kian menjadi-jadi membuatnya mampu mendengar letupan jantungnya sendiri. iapun berbagi ceritanya sambil merunduk, seisi bis mendengarkan, orang-orang bersimpati, bahkan bis berjalan lambat seakan tak sanggup membawa kami kesana.
reza tak sanggup menopang wajahnya, bis telah melewati pusat kota. orang-orang berkeringat basah. bis menjulur reza terisak, air matanya tumpah ruah. sepasang suami istri memeluknya. ia tak melihat sehelaipun pita disana, yang ada ratusan pita menghiasi pohon itu. sang sopir melonjak girang, ia menelpon surat kabar dan menyampaikan cerita ini.
ya sudahlah, sela sudah jauh dibuai mimpi reza duduk ditepian kasur dan perlahan merebahkan badannya urat matanya menebal. ia menatap atap kosong dihadapannya. ini malam yang terpanjang baginya, tadi baru saja ia dipecat dari perusahaan. entahlah, sulit dijelaskan kenapa? dan apa yang ada dikepalanya terlalu suram untuk dituliskan. ia coba tidur, berulang kali membenamkan mata, memiringkan tubuhnya ke kanan, ke kiri, sayang sekali tak berguna ia hanya harus menyiapkan kata yang tepat untuk esok.
matahari terlalu terburu-buru, semburatnya merayapi jendela, sayup-sayup mengisi ruangan, reza memiringkan badan menghadap istrinya, menatapnya dalam-dalam hatinya bergelumat ada sinar yang ditangkap dari ingatannya tentang senyumnya, suaranya, pancaran matanya penggalan-penggalan yang menyeret semangat seketika gairahpun menggelora, sebuah ruh seperti ditiupkan kembali dan ia tau pagi ini memang tak secerah kemarin, tapi ia tak peduli, ia tak peduli seberapa buruknya pagi karena ia selalu memiliki sela. matahari.
"ooaahh" sela terbangun, seolah tertidur reza mengintip dari bulu matanya yang tipis.
"ooaahh, selamat pagi" seloroh reza.
"pagi juga" lembut sela seluruh hati.
"kamu tidur masih pakai baju kerja" sambung sela meninggi. reza langsung bangun dan beranjak ia tertawa dari balik hati ia berkata "terima kasih"
..
hidup memang tak disangka alurnya, 3 bulan setelahnya pasangan inipun dikaruniai seorang putri, maskawin telah digadai untuk menonggak persalinan, satu beban lagi tertanam, suami mana yang bisa tinggal diam "sela, aku siap berpeluh merelakan waktuku asal rumahku tetap hangat" tegas reza. tapi kenyataan tak semudah itu, reza mulai mabuk orang bilang ini membantu, keadaan semakin tak karuan puncaknya saat musim dingin, ketika semua orang berlindung dibawah atap berkumpul dekat tungku, reza pulang wajahnya tak terlihat mesra, garang bak si naga.
"hendak kemana kau pergi" pelan sela melihat reza mengemas barang.
"kemanapun aku pergi,bukan urusanmu"
sela sempat menghadang, percuma reza mempitam sela dicampakkan, dibiarkan tergolek begitu saja dan rezapun pergi.
......
5 musim berlalu, sela sedang bercengkrama dengan putri sulungnya melisa, bermain ayunan tua yang menggantung di atas phoan oak, sore yang indah tersingkap, tawa melisa yang membaur dengan sambungan senja. memenuhi hati. seorang bersepeda menghampiri mereka, tukang pos.
"selamat sore"
"iya sore"
"dengan bu sela"
"iya"
"ada surat untuk ibu"
"oh terima kasih"
sela menyobek sampul surat, dari reza oh sela terhanyut. berdecak gugup.
"Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku. Namun jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kau menyatakannya? Ikatlah sebuah pita kuning pada satu-satunya pohon beringin besar di kota kita itu jika kamu masih mau menerimaku kembali. Apabila aku lewat di beringin itu dan tidak menemukan pita kuning yang diikat, tidak apa-apa. Aku mengerti. Aku tidak akan turun dari bis dan akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji untuk tidak akan mengganggumu lagi dan anak-anak seumur hidupku.”
......
ternyata reza 5 musim kemarin ia pergi kekota, ia sempat kaya sebelum akhirnya dibuih 3 tahun karena bisnis haram. hari ini adalah hari pelepasannya, ia telah mengirim surat sebelumnya. ia menunggu beberapa jam sebelum keluar gerbang penjara. hatinya gelisah, menunggu balasan suratnya, tapi tak kunjung ada ia bahkan tak tau kalau suratnya sampai atau tidak.
reza menaiki bis menuju ke Miami, Florida, yang akan melewati kampung halamannya, White Oak. suasana hati tak tentu, antara cemas dan harap. bis menghempaskan angin cepat, rasa gugup kian menjadi-jadi membuatnya mampu mendengar letupan jantungnya sendiri. iapun berbagi ceritanya sambil merunduk, seisi bis mendengarkan, orang-orang bersimpati, bahkan bis berjalan lambat seakan tak sanggup membawa kami kesana.
reza tak sanggup menopang wajahnya, bis telah melewati pusat kota. orang-orang berkeringat basah. bis menjulur reza terisak, air matanya tumpah ruah. sepasang suami istri memeluknya. ia tak melihat sehelaipun pita disana, yang ada ratusan pita menghiasi pohon itu. sang sopir melonjak girang, ia menelpon surat kabar dan menyampaikan cerita ini.

Comments
Post a Comment