Part I
"emang abang jadi ya?" tanya rio sedu, aku merunduk menyamai sama tinggi"kau jaga ibu" belum sempat ku berdiri langsung saja ia menggayut di batang leherku menyeringai. satu pelukan hangat kuterima. ibu telah selesai membaca qur'annya duduk ia di beranda sejak subuh, masih memakai mukena. kupeluk ia dari belakang sama seperti yang ia lakukan kala kecil dulu. menenangkan.
"izinkalah anakmu bu, seperti induk burung mengizinkan anaknya terbang, aku juga ingin lebih melihat dunia" ibu malah tak menjawab justru berbalik menembus pandanganku. tak rela.
"bu,," suaraku terpotong ibu menangis. ku dengar isaknya "ibu teringat mendiang ayahmu nak, hari-hari kian berbuat semaunya, tiada kesedihan yang kekal tidak pula kebahagiaan tapi sungguh antara kau dan ayahmu itu sama."
tak kuat aku mendengarnya, belum lagi isaknya meremas hatiku aku terpaku jadi sulit aku menapak, bumi telah tau air matanya yang terjatuh.
"mumpung belum sempat, akan kuurungkan niatku bu" jawabku matang. dikawani kesedihan esoknya ibu jadi merestui.
.......................
akupun pergi "hari-hari memang berbuat semaunya bu" tancapku mengulang katanya.
Jepang, akhirnya aku menjumpainya, negara asia terkecuali yang membaur dengan eropa, masuk dalam daftar negara maju. belum lama dari surat kabar yang kubaca Jepang telah mengungkapkan rencana untuk meningkatkan citra internasionalnya, awalnya memang sulit dipercaya. orang-orangnya kelihatan lugu tapi jelas tidak di hadapan dunia. aku duduk di kereta yang tak terdengar lajunya, bersama teman-temanku seindonesia yang belum lama kukenal, aku bilang ingin lihat semua sudut kota. mereka bersedia, rio, romi, dan nia mereka 3 tahun sudah bediam di negri sakura mereka merekomendasikan untukku menaiki kereta, banyak pikiran melonjak dibenakku setelah itu, dan satu alasan terpenting kutangkap kita bisa jumpai banyak orang membaca.
"pantas jepang lari begitu saja meninggalkan kita, bahkan meninggalkan sepupunya sendiri, cina"
setelah berkeliling aku puas dan mulai percaya. jepang nyaris kehilangan cacatnya, gotnyapun entah dimana. kami istirahat sejenak sebelum berpisah.
"aku ingin shalat maghrib sebentar sambil melihat-lihat kedalam masjid" kataku pada mereka.
"sebentar, aku ikut" nia.
"ya, silahkan" mereka duduk santai di tengah taman dekat masjid kobe, azan selesai berkumandang hari telah lewat senja cahaya lembayung terpatri menghibur anak-anak dara aku dan nia meninggalkan mereka bersamanya. kami melangkah bersama menuju pintu masjid, kujumpai pintunya tinggi besar, gelang emas menggantung di tengahnya. rekaan ruangnya serasa shalat dalam kediaman raja.
tak lama kemudian aku keluar dari pintu yang sama, hanya ada satu pintu untuk keluar dan kedalam, aku melihat seorang gadis di hadapan pintu kukira nia tapi bukan nia telah lebih dulu, ia berseakan memanjat doa.
"muslim" sapanya. ia beruluk menunduk pelan kepadaku.
"ya" jawabku membalas.
"kenapa tidak kedalam?" balikku bertanya. ia menggeleng tersipu ronanya terlihat, melembung bersama pipinya yang naik. ia seorang nona jepang, entah siapa namanya sempat ingin bercakap lama, senyumnya mengembang di wajah aku jadi malu tidak pengalaman bersapa sedekat ini. jarak 5 jengkal.
"selamat sore" ia berlalu.
"sore" langsung saja ia pergi, biarlah. aku hanya bertanya dalam hati kenapa ia hanya disini?. nanti saja kutanyakan nia
........................
aku duduk bersama nia selepas kuliah, ia memang 3 tahun lebih dulu SMAnya disini di nada high school sekarang kami satu bangku kuliah kami jadi sering bersama, ayahnya pak riko bekerja di kedutaan dan jarak flat kami dekat.
kobe, nia bilang kobe berarti gate of god (gerbang tuhan), baru seminggu aku menghirup udaranya, tertanam kokoh masjid disana, yang kemarin sempat kukunjungi, aku masih melihatnya hampir semua masjid memang mengikuti nama kota. masjid inipun namanya masjid kobe
"masjid ini dibina tahun 1928 dan merupakan masjid pertama di jepang" serunya
eksotis memang, karenanya menggarap sekian kali mataku memandang."kau tau dari mana?"
"aku bertanya"
sejarahnya tak kalah menarik, nia bercerita banyak. tahun yang sama dengan indonesia merdeka, saat amerika menjatuhkan bom atom di nagasaki dan hiroshima, jepang ambruk begitu saja jompo, nyaris seluruh bagian jepang kandas tersapu rata bersama tanah dan saat itu masjid kobe dan bangunannya yang menjulang masih seperti semestinya.
"belum pernah kudengar sebelumnya"
"ayah yang cerita"
"ngomong-ngomong, aku kenal arsiteknya"
"Ceko Jan Josef Švagr (1885-1969), seorang arsitek yang juga membangun sejumlah bangunan peribadatan Barat di seluruh Jepang" tambahku.
"ceko memang sengaja merancangnya bernuansa eropa, lebih kental ke turki".
"aku juga heran kenapa eropa, padahal masjid umat islam yang pertama dibangun kan di tumur" sambungnya.
"ya" setujuku.
tingkap kaca masjid bersusun warna, merangkai kalimat Allah dan Muhammad. aku dan nia sholat maghrib disana, selepasnya kulihat lagi wanita yang kemarin ku temui.
"kau kenal dia?" tunjukku. nia melihatku sejenak lalu menghampiri wanita yang kutunjuk. aku terlalu jauh untuk mendengar perbincangan mereka, nampaknya mereka saling kenal.
"ikhsan" nia mengajakku.
"kenalkan ini ryumi, ryumi ini ikhsan"
"senang berjumpa denganmu" aku gagap nona jepang itu menyapaku lebih dulu, lebih anggun dari yang kemarin kali ini berthau-cang, tak lagi membungkuk. tersenyum sumringah menghadapku elok, matanya nyaris hilang.
"kau tau ryumi, aku juga" jawabku sambil membungkuk. nia dan ryumi mereka tertawa.
"hhaaaha" aku ikut tertawa, mereka tertawa lebih kencang.

Comments
Post a Comment