Skip to main content

Ryumi


 Part II
kami berjalan bersama sebelum akhirnya berpisah, aku dan nia satu arah sementara ryumi ke arah lain. begitulah dan seterusnya. setiap usai maghrib kami bersama berbincang santai sebelum berpisah, lebih sering aku dan ryumi, akhir-akhir ini kerap nia tak hadir. entahlah pernah ia katakan sedang ada urusan.
"kenapa kau tak masuk masjid?" tanyaku penasaran.
"kau tau, orang-orang muslim bilang Tuhannya sangat penyayang"
"ya Maha Penyayang, kenapa?"
"semoga ia juga sayang padaku, itu saja"
"aku belum menangkapnya"
"aku non muslim"

bulan ini aku mengurus masjid. sudah sepekan aku tinggal di masjid, jadi tak sering lagi aku berkunjung ke kawan se tanah air. kalau ada hal penting saja. nia membantuku memperkenalkan diri dengan imam masjid. ustaz hasan. dari cuci kakus, membersihkan karpet, sampai jama'ah lain mengenalku. aku mulai berbaur, beberapa kali menyempatkan diri ke islamic centre meminta nasihat sambil melihat-lihat. ternyata benar, tidak banyak dari penduduk asli jepang yang memeluk islam, buku-buku islam memang telah banyak bahkan menggunakan bahasa jepang sendiri. tapi kebanyakan hanya mengangggap ini sebagai suatu pengetahuan.
..........
aku tergandrungi bayang ibu dalam ingatanku. bulan kemarin masih biasa, sekarang sudah lewat limit jangkauanku. pucak kerinduan adalah derita. aku rasa ini yang tak sanggup dihindari ibu saat melepasku. induk burung memang membiarkan anaknya terbang, karena ia tau tak lama saat senja anaknya akan pulang. ah, akhirnya ku ambil wudlu aku takut rindu ini melenyapkan semangatku. aku terhuyung dalam alam pikiranku menapaki bekas kenangan lalu.
"rasakan nak, kau akan tau nikmatnya membaca qur'an" sering ibu mengatakannya. aku jadi mengingatnya.
ku baca qur'an, ibu tak asal bicara. sering kali hatiku tertuju, mengilas balik saat kubaca dihadapan ibu. dan lebih dari itu, membuat batinku tenang.

hari sudah gelap, matahari mengutus bulan dan pasukan bintangnya menggantikan. ada satu buku yang juga sering kubaca, sirah nabawiyah. ibu bilang buku ini mempermudah menempatkan islam dalam diri. aku hanya ingin membaca setiap kisah didalamnya, menguak apa kata ghandi dan tokoh perdamaian dunia tentangnya. yang mereka percaya bukan pedanglah yang membuat islam perkasa, tapi ia datang dari sosok yang sederhana, bersahaja, berkasih terhadap sesama, yang tumbuh dari budi pekertinya yang mulia. Nabi Muhammad.  Allahumma shalli 'ala muhammad Dia adalah manusia teragung yang pernah menginjakkan kakinya di bumi. jadilah buku itu digenggamanku sebelum tidur.lembar pertama buku terdapat kalimat yang tercetak miring  cukuplah Allah sandaranku, muqaddimah penulis. bukan kata sederhana. akupun tersayat merenungi. pernah kudengar cerita guruku, ada ulama islam yang setelah usai menulis buku ia taruh bukunya tersebut diatas air sambil berkata,"ya Allah kalau aku menulis bukan karenaMu biarkanlah buku ini tenggelam bersama air". baru muqoddimah aku pulas.
         ..........
lampu-lampu pijar menyuluhi jalan, menangguhkan penerangan bumi. baru sebentar rasanya berbaring, aku terjaga. padahal alarmku belum lagi berdering. jauh di ufuk timurpun cahaya putih belum terbentang, masih satu jam lagi sebelum fajar. ahmad teman sekamarku di masjid masih juga terlelap. sebenarnya aku beranjak dari kasur karena mendengar seseorang meratap. suaranya parau bersembunyi di balik pintu, kubuka pintu masjid. aku tertegun. suara itu. ryumi.
ia tak terlihat muluk, tidak berthau-cang, rambutnya terjuntai ke dahi, ada rona di wajahnya, biru.
"rian" ia tersimpuh sambil menatapku. aku terperanjat, matanya sebam. ada bercak darah di hidungnya. sergap saja kubawa ia masuk, berjalan saja ia tak kuat.
"astaghfirullahal 'azim, ahmad bantu saya" seruku dari luar. ahmad sekonyong-konyong datang,ia mengitarkan pandangannya. berselimut pertanyaan.
"astaghfirullah, ada apa?"
"ambilkan kasur dan selimut"
sontak ahmad gopoh-gapah berlari, aku mengusap wajahnya dengan kain hangat. sementara ahmad menelpon nia.
tak lama nia datang.
"kenapa?" tanya nia.
"nanti aku jelaskan"
"sekarang kita bawa dulu ke rumah sakit"
kami bergegas, melaju menuju rumah sakit.
kami duduk diluar. menunggu. seorang suster keluar dari dalam ruangan sambil memeluk papan.
"keluarga pasien ryumi?" serunya.
"dia teman saya, sus"
"dimana keluarganya?" baliknya bertanya.
"saya saudaranya" nia diajaknya masuk kedalam ruangan.
        ..........
ryumi sadar. matanya mengerjap silau dalam ruangan serba putih. selang-selang menyambung di pergelangan tangannya, menjalar dari tabung infus yang menggantung. nafasnyapun dibantu. wajahnya nampak lebam. kakinya dibalut perban. ia tau kondisinya, tak mampu bergerak, berpakaian pasien. ia memberi isyarat meminta supaya menjungkit kasurnya lebih tinggi.
"alhamdulillah" gumamnya. aku mendengarnya sedikit.
ia tersenyum tipis kepadaku dan nia, tak mengembang seperti sedia kala. ryumi nampak ingin berbicara, nia mendekatkan kuping dihadapannya, lalu mengangguk.
"ryumi ingin kamu keluar" bisik nia kepadaku. aku melihat ryumi. ia mengangguk.
"baiklah" aku mengerti.
aku berbayang pertanyaan, satu di antaranya apa yang sebenarnya terjadi?. ingin cepat rasanya aku bertanya, tapi biar kubungkam. kubungkus semua dan kutanya nanti.
tak lama nia keluar, sorotannya dalam menembus mata. ada apa?.
"ryumi, masuk islam"
"ia mengatakan padaku"
"kalian tanang saja aku baik, bahkan lebih baik. aku hanya senang, lihat wajahku. kau tau? aku ingin memeluk islam"

Comments

Popular posts from this blog

Identitas

Transformasi media adalah bentuk dari kemajuan peradaban manusia. Seperti tubuh, otak juga berkembang sepanjang berjalannya waktu. Kemajuan ini; ilmu pengetahuan, teknologi, media informasi, sudah semestinya terjadi. Karena dalam mata rantai kehidupan, hanya manusia seorang yang diberikan akal. Tidak lumba-lumba tidak binatang, hanya manusia dan yang lebih lagi bahwa setiap yang ada pada alam ini diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Allah berfirman: و في أنفسكم أفلا تبصرون “dan pada dirimu sendiri. Apakah kamu tidak memperhatikan” Ada manusia telah sampai ke bulan, mars, dan lebih dari itu dengan pesawat berkecepatan cahaya. Ya. Apa yang terjadi detik ini di afrika amerika bisa tahu. Ya. Namun secerdas apapun manusia tidak akan mampu menciptakan nyamuk. Kemampuan manusia dalam teknologi mutakhir adalah tugas manusia (imaratul ardh) dan kebahagiaan bagi manusia lainnya. Adapun masalah penciptaan adalah hak Allah. Manusia sering tidak mengakui identitasnya sebagai...

Guru

Dulu, ketika tengah bodoh-bodohnya, kepala sekolah Ust. Faruq (guru senior DNC) sering mengingatkan, khususnya dalam apel beliau menyusutkan Guru dalam akronim Digugu & Ditiru secara mutlak, seperti pencerahan buat setiap murid -selain sya- dan sentilan halus untuk yg lain. sekalipun kalimat itu terpatri di kedalaman tapi maknanya terbentur karna yg mampir kemudian adalah peribahasa usil, "guru kencing berdiri murid kencing berlari". *maaf, tapi memang ketololan saat itu sedang jadi-jadinya. 😅 . . Sekarang, dari sosoknya sedikitnya sya mengerti maksud itu. Guru (digugu & ditiru) karna Guru layaknya air merta jiwa, Guru adalah kebaikan yg amerta. Guru (digugu & ditiru) karna Guru layaknya figur dari jiwa yg suci, Guru adalah pewaris para Nabi. #Gurukupahlawanku #terimakasihguru #selamathariguru

AKU

Aku adalah aku Aku bukan dia Aku tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.. Aku bukan maksud ana selang penciptaan Aku adalah gemetar di keheningan Aku dipenggalan malam Aku adalah decakan tak termisal, Skala denyut kerinduan Aku.. Aku.. Aku Aku isyarat kepasrahan Aku bukan berarti apa-apa, Ketika aku ditandaskan, dunia ini hilang Hukum Ruang, waktu, lebur tak bersulang Aku.. Aku.. Aku Aku adalah keramat sufi Yang hidup dalam dimensi ketiadaan