Part III
wajahnya seperti dirombak. sebelumnya halus, ada urat-urat merah di pipi yang membuat rona. sekarang tak terlihat lagi. aku melihat hasil rontgen dan berdiri dihadapan aslinya. parah. kulitnya tak selembut dulu, ada bekas luka disekitar wajahnya. hidungnya patah, begitu juga pergelangan kaki sebelah kanannya.
ia berkata disela perhatianku,"aku baik-baik saja, jangan khawatir."
"bagaimana bisa, siapa yang melakukannya"
"kau masih mengingatnya, siapa yang melakukannya."
"pemuda dekat rumahmu?, atau yang mana?"tukasku. pertanyaan saling menyambung datang dan keluar saja di mulutku. inikah perlakuan manusia?.
ryumi diam. nona ini hanya melukiskan senyum terbaiknya. sementara nia sedari tadi memperhatikan dengan seksama. "aku akan melaporkannya pada polisi!" sentaknya tiba-tiba.
"siapa?" tanyaku.
"tidak perlu" spontan ryumi.
"apa yang kalian bicarakan?, jelaskan padaku"
"san, tidak banyak yang perlu dijelaskan. orang tua ryumi sendiri yang melakukannya"
aku terkejut. kembali perhatianku kepada ryumi. ia diam saja. orang tua macam apa?, gadis semata wayangnya sendiri. dengan tangannya sendiri. lebih rumit dari yang kukira. sudah pudarkah norma-norma keluarga jepang?. sangat memilukan. seperti kembali pada zaman sebelum perang dunia ke-2. kulihat ryumi sendiri masih termangu, terlihat awan gelap diwajahnya. aku juga tak habis pikir, kok bisa?. perasaanku timbul tenggelam, dilema memang.
................
februari telah berlalu. pohon-pohon memperlihatkan bunganya, hari terasa hangat. tidak seperti pancaroba di Indonesia. warna-warni bunga pohon prem bermunculan. bunga persik menyusul, membuka kelopaknya memberi salam pada mentari. menandakan fuyu (musim dingin) telah berlalu.
salju telah lama mencair. setiap orang Jepang tidak sabar menunggu bulan maret berakhir. "mudah-mudahan ryumi jauh lebih baik". satu bulan sudah tak jumpa, aku lebih banyak fokus berkutat dengan buku, tidak lama lagi akan ada ujian.
belum habis bacaanku nia menelpon " waalaikumsalam, ada apa?" jawabku.
"kita keluar yuk, ajak ahmad"
"sekarang, aku sudah didepan, aku rio dan romi."
"ditunggu, wassalamu'alaikum" sambarnya. sambungan terputus. aku menengok jendela, benar saja mereka sudah dihadapan pintu. jadi mau tak mau, harus mau.
ahmad menolak pergi, ia sedang menelpon keluarganya di pakistan. senang sekali. "pergilah, aku disini saja" ucapnya.
awal april, Sakura dapat terlihat di mana-mana. bahkan, alat tulis, kimono, peralatan dapur dan aneka ragam pakaian anak, yang besar, yang kecil, remaja, dan orang tua berhias bunga sakura. bunga nasional jepang ini kerap kali diasosiasikan dengan perempuan, kehidupan, kematian. juga simbol untuk mengeksperesikan ikatan antarmanusia, keberanian, kesedihan, dan kegembiraan.
semua keluarga berbaur. mereka mempunyai kebiasaan yang disebut hanami, duduk-duduk sambil menikmati bunga sakura. kami berniat menuju tokyo, menaiki shinkansen yang Kecepatan tertingginya bisa mencapai 300 km/jam. kali ini istimewa, kereta shinkansen disesaki banyak keluarga. tidak biasanya. aku lihat dua tatapan ayah dan anak saling bercanda mendekati, sang ayah menenteng tas lalu sang anak membantu ayahnya menaiki kereta "pegang tanganku ayah" ucapnya. haha. yang lain kulihat keluarga baru, sepertinya belum lama menikah. sang ibu mengelus-elus perutnya yang melendung sambil tersenyum manja. menatap dalam-dalam suaminya mesra.
tidak lama kami sampai di tokyo, lbukota negara Jepang. diresmikan menjadi ibukota negara sejak tahun 1868. "akhirnya sampai juga" ujar romi.
seluruh wajah terlihat cerah, berantrian turun dari kereta. aku, nia,rio,dan romi bergegas menuju taman ueno. kenapa? karena kami dan semua penumpang tadi memiliki tujuan sama, yaitu taman ueno. untuk menikmati musim semi.
taman umum yang berada di kawasan Ueno, distrik Taito-ku, Tokyo telah ramai, taman yang luasnya sekitar 530 ribu meter persegi itu dipadati orang. tikar-tikar mengahampar hampir tak menyisakan rongga. anak-anak duduk diatas pundak ayahnya berusaha memetik satu daunnya, sementara sang ibu bernyanyi-nyanyi sambil menyiapkan makan. riuh benar suara mereka. riang gembira. sepanjang mengelilingi taman nia,rio, dan romi tertawa lepas, senang sekali. aku mengambil foto mereka.
Kesempatan piknik ini memang langka. maka pantas orang beramai-ramai datang. bukan hanya itu, merpati juga. satu-persatu datang merayap diatas ranting. mematuki bunganya. kami berhenti di selatan taman, dekat kolam luas bernama Shinobazu. airnya dihamburi bunga-bunga. indah untuk dipandangi, seolah memang sengaja. nia melepaskan ranselnya mengeluarkan termos dan langseng.
"taaaraaa, sakura mochi" seru nia.
aku sering lihat, tapi belum sempat mencicipi. warnanya merah muda dan ditutupi dengan bunga sakura.
"enak" ujarku.
"sudah setahun, aku belum pernah mencicipi mochi seenak ini." pungkas romi.
"lagi rom, masih banyak"
nia menyodorkanku satu,"ini buatanku loh, tambah dong!"
"baik, arigato" ucapku mengikuti orang disamping. nia tersenyum. rio mengambil satu lagi, di tangan kirinya sudah ada satu. "perhatikan" serunya. dua-duanya ia telan sekaligus. aku dan romi terbahak, "pelan-pelan, nikmatin dong yo" singgung nia.
"haha" tawa kami semakin meluber.
cahaya senja menyusup, rio meminta seorang bapak mengambil foto kami bersama sebelum hari benar-benar gelap. lalu aku mengambil foto mereka dengan keluarga bapak tadi. tak ada wajah yang tertahan, semua nampak setia tersenyum. nia menghampiriku,"coba kulihat gambarnya san".
"silahkan"
ia tertawa sendiri,"oh iya, gimana perseiapan ujian kamu" tanyanya.
"alhamdulillah baik"
"baguslah"
"jadi aku gak ganggu kan ngajak kamu san?"
"gak papa, ini mengagumkan. aku senang."
"oh iya" belum selesai pertanyaan, tanggap nia "kenapa san"
"gimana kabar ryumi?" lanjutku. sontak senyum nia mengendur. aku tak menangkap hal itu. nia menatapku,"ryumi baik, ia juga menyampaikan salam untukmu" suaranya lirih. ia kembali melihat kamera, aku melihat pundaknya menjauh. kenapa?, salah pertanyaanku.

Comments
Post a Comment