Skip to main content

Ryumi


Part IV
handphone disakuku bergetar, hasan memberikanku pesan singkat. aku diharap segera kembali. oke, baiklah. kuniatkan kembali lebih awal. matahari memang sudah kian mengarah ke barat, tak lama lagi saatnya bulan berkunjung. akhirnya serempak kami putuskan untuk pulang.
banyak sekali yang kupendam dalam ingatanku, matahari bukan hanya menyentuh bumi tempatku. hari seolah berbisik menyampaikan kabar orang-orang dengan hati lebih tangguh. pikirku sempat melayang. kenapa kian banyak presentase orang menyelesaikan hidup? sekitar satu juta orang bunuh diri setiap tahun. aneh, bahkan jauh lebih besar ketimbang jumlah kematian perang dan tindak kriminal.
"mereka hanya melewatkan ruang antara kisah suka dan duka yang sebenarnya adalah keindahannya, padahal waktu singgah hanya sementara."
shinkansen tak lagi sesak penumpang, orang-orang dengan leluasa berbincang. sepertinya yang lain masih betah disana. sementara nia sibuk bermain tangan dengan handphone, rio dan romi berbagai lagu dalam satu headset. aku lebih senang memperhatikan sekeliling, malihat ekspresi wajah-wajah yang sarat bahagia. yang jelas terlihat bekas tawa pada mereka.
seorang nona kecil menghampiri, duduk tepat disampingku. kusadari selalu ada senyum terbingkai di wajah manisnya. kulihat ditelinganya masih terselip bunga sakura, belum hilang rupanya atau disengaja?. wahai nona kecil, indahnya kehidupanmu. tak pernah kau sesali hari kemarin, kau tak mengeluh tentang apapun, tak membenci siapapun, selalu kau anggap semua orang itu baik.
ia duduk menggayut kaki yang tak sampai. belum lama kulepas pandanganku, sudah saja ia terpejam. haha, lelah rupanya.  padahal malam masih terlalu panjang. bersenang-senang rupanya melelahkan.
"mungkin mimpinya juga menyenangkan."
shinkansen melaju deras, lampu-lampu kota sampai terlihat temaram. setiap daun-daun pohon berbisik membuat desus-desus sampai ke dahan paling tinggi, angin mendera. kami sampai di kobe pukul 6 sore.
"oke san, w balik duluan" pamit rio dan romi.
"aku tinggal juga ya san" nia.
rio dan romi beda arah denganku. sedangkan nia, ia bilang ayahnya menunggu untuk makan malam di restoran. jadilah, aku berjalan sendiri. tak lama nia mengirim pesan,"kalau sempat, datanglah" ia memberikan alamat padaku. kutanya alamat apa?, ia tak balik membalas. lagi pula kenapa tadi tidak langsung saja bicara?. uh.
..............
pagi menyuguhkan kesegaran, ternyata kobe juga tak kalah ramai. orang-orang entah hendak pergi kemana, beberapa berjalan gemulai dan yang lainnya lebih banyak menjejakkan kaki tak kalah seperti berlari. berburu waktu, langkahnya saling mengejar. aneh rasanya berjalan santai.
aku mampir sebentar di kedai tuan musthafa. sayang ia sedang keluar. aku pernah bekerja disini sebelumnya, ada juga temanku aji, ia masih disana.
"assalamualaikum"
"waalaikumsalam warahmatullah, ikhsaaan duduklah."
"bagaimana kabarmu ji?."
"alhamdulillah baik. duduklah biar kubikinkan teh hangat"
"tak perlu"
"tidak apalah, jangan sungkan"
"aku hanya mampir sebentar, kau tau alamat ini?" sodorku.
tak jauh juga, untung kutanya aji. yang sulitnya alamat disini memakai tulisan kanji -bukan arab bukan latin, melengkung-lengkung sedikit alihbahasa-. kuamati lamat-lamat lalu kusamai, semoga tak salah. ku beranikan diri masuk, dihadapanku pagar tak terkunci. pandanganku mengedar mencari kalau saja salah bisa diteriaki anjing nanti, sebelum benar-benar melangkah aku terkejut menaikan sepersekian detik denyutku ia menyapa dan berhenti di sampingku. pria dengan mata meruncing itu mengucapkan salam padaku, tingginya tak mengalahi pagar setara 170cm, ia berkopyah.
"waalaikum salam warahmatullah, saya mencari alamat ini."
"ya, benar. silahkan!."
sopan sekali, kuajak kakiku berirama, melangkah bersamanya. belum sampai setengah taman lantunan al-qur'an terdengar sayu menepi disekitar telinga, kupastikan suaranya bersemamayam di balik dinding yang tinggal beberapa langkah di depanku. aku bersama hadi menuju kearah suara tanpa alas kaki menyusuri lantai berlapis dan berdinding kayu, berbilik-bilik. pandanganku terkumpul diboyong bersama batas ingatanku, luruh menyemaikan sekian denyutku.

Comments

Popular posts from this blog

Identitas

Transformasi media adalah bentuk dari kemajuan peradaban manusia. Seperti tubuh, otak juga berkembang sepanjang berjalannya waktu. Kemajuan ini; ilmu pengetahuan, teknologi, media informasi, sudah semestinya terjadi. Karena dalam mata rantai kehidupan, hanya manusia seorang yang diberikan akal. Tidak lumba-lumba tidak binatang, hanya manusia dan yang lebih lagi bahwa setiap yang ada pada alam ini diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Allah berfirman: و في أنفسكم أفلا تبصرون “dan pada dirimu sendiri. Apakah kamu tidak memperhatikan” Ada manusia telah sampai ke bulan, mars, dan lebih dari itu dengan pesawat berkecepatan cahaya. Ya. Apa yang terjadi detik ini di afrika amerika bisa tahu. Ya. Namun secerdas apapun manusia tidak akan mampu menciptakan nyamuk. Kemampuan manusia dalam teknologi mutakhir adalah tugas manusia (imaratul ardh) dan kebahagiaan bagi manusia lainnya. Adapun masalah penciptaan adalah hak Allah. Manusia sering tidak mengakui identitasnya sebagai...

Guru

Dulu, ketika tengah bodoh-bodohnya, kepala sekolah Ust. Faruq (guru senior DNC) sering mengingatkan, khususnya dalam apel beliau menyusutkan Guru dalam akronim Digugu & Ditiru secara mutlak, seperti pencerahan buat setiap murid -selain sya- dan sentilan halus untuk yg lain. sekalipun kalimat itu terpatri di kedalaman tapi maknanya terbentur karna yg mampir kemudian adalah peribahasa usil, "guru kencing berdiri murid kencing berlari". *maaf, tapi memang ketololan saat itu sedang jadi-jadinya. 😅 . . Sekarang, dari sosoknya sedikitnya sya mengerti maksud itu. Guru (digugu & ditiru) karna Guru layaknya air merta jiwa, Guru adalah kebaikan yg amerta. Guru (digugu & ditiru) karna Guru layaknya figur dari jiwa yg suci, Guru adalah pewaris para Nabi. #Gurukupahlawanku #terimakasihguru #selamathariguru

AKU

Aku adalah aku Aku bukan dia Aku tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.. Aku bukan maksud ana selang penciptaan Aku adalah gemetar di keheningan Aku dipenggalan malam Aku adalah decakan tak termisal, Skala denyut kerinduan Aku.. Aku.. Aku Aku isyarat kepasrahan Aku bukan berarti apa-apa, Ketika aku ditandaskan, dunia ini hilang Hukum Ruang, waktu, lebur tak bersulang Aku.. Aku.. Aku Aku adalah keramat sufi Yang hidup dalam dimensi ketiadaan