VI (terakhir)
Orang-orang berjajar menembang duka. Peti itu sudah tertelungkup ditimbun bercampur wewangian tanah. Benar-benar telah tiada, dibatasi nisan sebagai tanda. Semua kerabat bersebaran mengerjap-mengerjap mata, upacara pemakaman sudah usai. "Akan ku samper dia pak", lirih seorang wanita menghentikan langkah tubuh yang mendahulinya. mereka bersitatap, wanita itu melihat nyala di mata suaminya."Buat apa?."
"Buat apa?, ryumi kan keponakan kita."
"Sekarang sudah tidak."
"Tapi!". Wanita itu menyangga, perasaan wanita. "Bu, aku bilang tidak!!", kalimat suaminya mengeras. Sudah bukan himbauan, ada ancaman pada ritmenya. "Sudah, mending cepat kita pulang."
Itu pamannya ryumi, ia kelewat naik. Air di mukanya bertambah masam, keruh terbias angkara murka. Adik ayahnya itu berseteru hebat dengan istrinya setelah acara pemakaman. Ryumi benar tentang reaksi keluarganya, sesampainya di mobil istrinya kembali terpercik. Paman ryumi menyikapi istrinya serius,"o ya, akan kuhapus juga namanaya dari daftar keluarga kita", alamat sudah jelas. Ryumi jadi sebatang kara.
................
"Ryumi" Iksan menabung namanya, bersajak. "aku tersesat dalam kabut. tak bisa ku eja maknanya. karna sudah menyambangi hati begitu akut. inikah gejala cinta?. masih tak berani kusebut itu, takut terlalu cepat mengira."
Iksan berniat menjenguk ryumi hari ini, itu tinta dari mata penanya. Upaya melenggangkan hati. angin jadi terasa segar, menuai nuansa puri begitu permai. Di panti, ryumi kembali menyamun hidupnya, membantu bu aiko menemani anak-anak kecil lainnya yang juga sendiri. Iksan menatapnya di balik pagar, memindai. Wajah ryumi berpendar lebih manis dari bingkai rembulan yang mengesankan kerinduannya setiap malam. Ketika memaksa diri masuk kedalam, iksan tergeragap. Ryumi, bu aiko dan beberapa anak sedang duduk di beranda yang seluruhnya dipan. Gemertak kayu langsung saja bertalu, anak-anak menyambarnya cepat.
"Assalamualaikum" iksan beruluk berlagat malu, senyum-senyum menyalaminya. Ryumi berbalik ia malah kebelakang maninggalkan salamnya. Sinyal deras tambah merasuki selaput dada iksan, mengajak coretan merah di pipinya. "waalaikumsalam, iksan. sini duduklah", ajak bu aiko.
"bu, kemana ryumi?"
"ia sedang siapkan minuman" sigap sekali, iksan duduk di antara mereka. Benar tentang pemeo jepang, wanita jepang baik untuk dinikahi. Bu aiko dikerumini anak-anak itu, lanjut mengajarkan sesuatu. merangkai bunga. "oh, sedang buat kadou, bunga. bu?."
"ya,"
"indah sekali, bisa ajarkan saya?"
"nak iksan, ini hanya untuk wanita." tawanya terpingkal-pingkal. "o iya?"
"kenapa bu?"
"tepat sekali kau datang"
"tepat sekali?"
"iya ibu punya kabar baik" iksan masih belum mengerti. "kau tau, ryumi dilamar ibrahem." Bu aiko bertalar saja, senang sekali.
"jad.. jadi." iksan menarik wajah anehnya, ikut tersenyum seolah girang. Ia tersungkur, dadanya tak lagi beralun baik. Ia tersekat begitu mendengar kabar itu.
"itu dia ryumi."
ryumi menjamu hangat. Jangan tanya, wanita jepang pandai meramu teh. Itu sadou, teh hijau untuk jamuan. Iksan jadi terhormat. "gimana kabarmu?" sapanya memecahkan lamunan. Kabar tadi masih belum membuat iksan normal, belum menjawab. Ia masih tersedak.
"ryumi, nak iksan sudah ibu beri tahu" seloroh bu aiko menggoda. Ryumi membalas sumringah, alisnya mengangkat membumbung wajah bahagia. "jadi, iksan mau jadi waliku?". Iksan tertempa. ia bergumam dalam hati "kau tau berapa dalam perkataanmu tadi" "ryumi, sudutmu mengguncangkan. mendesirkan sesuatu yang belum selesai kujawab." hatinya terlipat, terdiam durja.
Air mata bukan kesatuan luka, tapi
senang juga. Keduanya berkelindan jadi bagian darinya."Sudahilah
tangismu nak", seru bu aiko pahit. Ryumi sesenggukan, suaranya kian
parau. "Jangan terburu-buru ma."
"Bisa kau lihat, dilangit bintang
pun berkedip, mereka dengar, berdecak sendu". Selayang keharuan
menyekap warna mukanya. Apalagi nia, air di matanya sudah habis porsi. Tidak disangka ia sebegitu melelehnya.
"Ssst, sudah! tidak baik
menangis terlalu lama". Bu aiko menyeka bulir tangisnya,"ryumi, kau tau
mengapa tuhan menutup tabir waktu?". ryumi menggeleng,"kenapa dengannya
ma?". "Karna kalau tidak, semua manusia akan menangis sepanjang
masa", "apa jadinya jika manusia menyaksikan takdirnya sendiri?, semua
orang pasti merasa diburu. Berapa banyak orang yang tak sanggup bangun,
mereka telah tau apa yang akan terjadi". Dagu ryumi memantul-mantul
membiarkan bu aiko melepas rangkulannya. Ia menghela nafas panjang,
membiarkan semua perasaann yang tersumbat menguap.
"Alhamdulillah", kata
terakhir bu aiko menutup gelombang air mata. Perasaan ryumi semakin
rindang, air mata surut di wajahnya. Hanya sisanya yang terlihat, berkelip dipantul lampu. "syukurlah", desahku juga.
Keremangan di langit pun berangsur pudar, gelap semakin lenyap digusur sirat pagi. Menjalar dari burit langit meleburkan malam.
"Ahhh
ryumi, bu, nia. sudah subuh, saya..", kataku berlaga tegar, mengusung
dada sembari berbalik menunjuk pintu. "saya keluar" tetap saja, tangis
tadi masih membumbui nalarku. lidahku tercekat.
................Orang-orang berjajar menembang duka. Peti itu sudah tertelungkup ditimbun bercampur wewangian tanah. Benar-benar telah tiada, dibatasi nisan sebagai tanda. Semua kerabat bersebaran mengerjap-mengerjap mata, upacara pemakaman sudah usai. "Akan ku samper dia pak", lirih seorang wanita menghentikan langkah tubuh yang mendahulinya. mereka bersitatap, wanita itu melihat nyala di mata suaminya."Buat apa?."
"Buat apa?, ryumi kan keponakan kita."
"Sekarang sudah tidak."
"Tapi!". Wanita itu menyangga, perasaan wanita. "Bu, aku bilang tidak!!", kalimat suaminya mengeras. Sudah bukan himbauan, ada ancaman pada ritmenya. "Sudah, mending cepat kita pulang."
Itu pamannya ryumi, ia kelewat naik. Air di mukanya bertambah masam, keruh terbias angkara murka. Adik ayahnya itu berseteru hebat dengan istrinya setelah acara pemakaman. Ryumi benar tentang reaksi keluarganya, sesampainya di mobil istrinya kembali terpercik. Paman ryumi menyikapi istrinya serius,"o ya, akan kuhapus juga namanaya dari daftar keluarga kita", alamat sudah jelas. Ryumi jadi sebatang kara.
................
"Ryumi" Iksan menabung namanya, bersajak. "aku tersesat dalam kabut. tak bisa ku eja maknanya. karna sudah menyambangi hati begitu akut. inikah gejala cinta?. masih tak berani kusebut itu, takut terlalu cepat mengira."
Iksan berniat menjenguk ryumi hari ini, itu tinta dari mata penanya. Upaya melenggangkan hati. angin jadi terasa segar, menuai nuansa puri begitu permai. Di panti, ryumi kembali menyamun hidupnya, membantu bu aiko menemani anak-anak kecil lainnya yang juga sendiri. Iksan menatapnya di balik pagar, memindai. Wajah ryumi berpendar lebih manis dari bingkai rembulan yang mengesankan kerinduannya setiap malam. Ketika memaksa diri masuk kedalam, iksan tergeragap. Ryumi, bu aiko dan beberapa anak sedang duduk di beranda yang seluruhnya dipan. Gemertak kayu langsung saja bertalu, anak-anak menyambarnya cepat.
"Assalamualaikum" iksan beruluk berlagat malu, senyum-senyum menyalaminya. Ryumi berbalik ia malah kebelakang maninggalkan salamnya. Sinyal deras tambah merasuki selaput dada iksan, mengajak coretan merah di pipinya. "waalaikumsalam, iksan. sini duduklah", ajak bu aiko.
"bu, kemana ryumi?"
"ia sedang siapkan minuman" sigap sekali, iksan duduk di antara mereka. Benar tentang pemeo jepang, wanita jepang baik untuk dinikahi. Bu aiko dikerumini anak-anak itu, lanjut mengajarkan sesuatu. merangkai bunga. "oh, sedang buat kadou, bunga. bu?."
"ya,"
"indah sekali, bisa ajarkan saya?"
"nak iksan, ini hanya untuk wanita." tawanya terpingkal-pingkal. "o iya?"
"kenapa bu?"
"tepat sekali kau datang"
"tepat sekali?"
"iya ibu punya kabar baik" iksan masih belum mengerti. "kau tau, ryumi dilamar ibrahem." Bu aiko bertalar saja, senang sekali.
"jad.. jadi." iksan menarik wajah anehnya, ikut tersenyum seolah girang. Ia tersungkur, dadanya tak lagi beralun baik. Ia tersekat begitu mendengar kabar itu.
"itu dia ryumi."
ryumi menjamu hangat. Jangan tanya, wanita jepang pandai meramu teh. Itu sadou, teh hijau untuk jamuan. Iksan jadi terhormat. "gimana kabarmu?" sapanya memecahkan lamunan. Kabar tadi masih belum membuat iksan normal, belum menjawab. Ia masih tersedak.
"ryumi, nak iksan sudah ibu beri tahu" seloroh bu aiko menggoda. Ryumi membalas sumringah, alisnya mengangkat membumbung wajah bahagia. "jadi, iksan mau jadi waliku?". Iksan tertempa. ia bergumam dalam hati "kau tau berapa dalam perkataanmu tadi" "ryumi, sudutmu mengguncangkan. mendesirkan sesuatu yang belum selesai kujawab." hatinya terlipat, terdiam durja.

Comments
Post a Comment