Skip to main content

Tanggung Jawab[1][2][3]

            Inilah sebuah cerita sederhana. Pada satu ketika di sebuah kerajaan, seorang raja ingin menguji kesadaran warganya. Ia pun memberi titah langsung kepada setiap warga untuk membawa sesendok madu pada satu malam yang ditentukan dan kemudian madu tersebut dituangkan dalam sebuah bejana yang ada di puncak bukit tengah kota.

            Setiap warga paham betul perintah raja mereka dan menyatakan kesedian untuk melakukannya, kecuali satu orang (katakanlah si A). Ia berniat mengelak, bukan membawa sesendok madu malah menaruh disendoknya itu dengan air. "Tak apalah. toh, acaranya kan malam hari, pasti gelap dan tak kan ada yang tau", gumamnya dalam hati. dan kalaupun dituang ke bejana, air yang dibawanya juga tak akan mengubah rasa madu yang semua warga bawa.

            Tibalah saat yang dinantikan raja itu.  Namun, apa yang terjadi selanjutnya?. Setelah semua warga mengisi bejana, ternyata sang raja mendapatkan seluruh bejana berisikan air. Rupanya, seluruh warga berpikiran sama dengan si A, mereka mengharapkan warga lain membawa madu dan membebaskan diri dari tanggung jawabnya.

            Kisah seperti ini bisa saja terjadi, bahkan mungkin sering terjadi di tengah-tengah masyarakat. Kita ingat betapa rasulullah dulu pernah berwasiat dalam sebuah hadis :

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤول عَنْ رَعِيَّتِه (متفق عليه)

            Tanggung jawab merupakan sebuah prinsip yang bahkan ditekankan oleh agama. Setiap orang  adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Rasulullah SAW. mengajarkan dalam hadits di atas kepada setiap muslim untuk bertanggung jawab, karena dengan sikap ini ia akan selamat di masa pertanggungan nanti. untuk itu, agama islam memberikan petunjuk agar kejadian di atas tidak terjadi. mulailah dari diri sendiri, karena hanya dengan sikap demikianlah bejana sang raja akan dipenuhi madu bukan air, apalagi racun.

[1]Disarikan dari buku lentera hati: kisah dan hikmah kehidupan karya M. Quraish Shihab

[2]Diedit oleh shofwan najmu, penulis buku panduan ibadah musafir, Al-Maghfiroh Jakarta.

[3]Tulisan ini pernah dimuat dalam Buletin Perdana edisi 137

Comments

Popular posts from this blog

Identitas

Transformasi media adalah bentuk dari kemajuan peradaban manusia. Seperti tubuh, otak juga berkembang sepanjang berjalannya waktu. Kemajuan ini; ilmu pengetahuan, teknologi, media informasi, sudah semestinya terjadi. Karena dalam mata rantai kehidupan, hanya manusia seorang yang diberikan akal. Tidak lumba-lumba tidak binatang, hanya manusia dan yang lebih lagi bahwa setiap yang ada pada alam ini diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Allah berfirman: و في أنفسكم أفلا تبصرون “dan pada dirimu sendiri. Apakah kamu tidak memperhatikan” Ada manusia telah sampai ke bulan, mars, dan lebih dari itu dengan pesawat berkecepatan cahaya. Ya. Apa yang terjadi detik ini di afrika amerika bisa tahu. Ya. Namun secerdas apapun manusia tidak akan mampu menciptakan nyamuk. Kemampuan manusia dalam teknologi mutakhir adalah tugas manusia (imaratul ardh) dan kebahagiaan bagi manusia lainnya. Adapun masalah penciptaan adalah hak Allah. Manusia sering tidak mengakui identitasnya sebagai...

Guru

Dulu, ketika tengah bodoh-bodohnya, kepala sekolah Ust. Faruq (guru senior DNC) sering mengingatkan, khususnya dalam apel beliau menyusutkan Guru dalam akronim Digugu & Ditiru secara mutlak, seperti pencerahan buat setiap murid -selain sya- dan sentilan halus untuk yg lain. sekalipun kalimat itu terpatri di kedalaman tapi maknanya terbentur karna yg mampir kemudian adalah peribahasa usil, "guru kencing berdiri murid kencing berlari". *maaf, tapi memang ketololan saat itu sedang jadi-jadinya. 😅 . . Sekarang, dari sosoknya sedikitnya sya mengerti maksud itu. Guru (digugu & ditiru) karna Guru layaknya air merta jiwa, Guru adalah kebaikan yg amerta. Guru (digugu & ditiru) karna Guru layaknya figur dari jiwa yg suci, Guru adalah pewaris para Nabi. #Gurukupahlawanku #terimakasihguru #selamathariguru

AKU

Aku adalah aku Aku bukan dia Aku tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.. Aku bukan maksud ana selang penciptaan Aku adalah gemetar di keheningan Aku dipenggalan malam Aku adalah decakan tak termisal, Skala denyut kerinduan Aku.. Aku.. Aku Aku isyarat kepasrahan Aku bukan berarti apa-apa, Ketika aku ditandaskan, dunia ini hilang Hukum Ruang, waktu, lebur tak bersulang Aku.. Aku.. Aku Aku adalah keramat sufi Yang hidup dalam dimensi ketiadaan