Inilah sebuah cerita sederhana. Pada satu ketika di sebuah kerajaan, seorang raja ingin menguji kesadaran warganya. Ia pun memberi titah langsung kepada setiap warga untuk membawa sesendok madu pada satu malam yang ditentukan dan kemudian madu tersebut dituangkan dalam sebuah bejana yang ada di puncak bukit tengah kota.
Setiap warga paham betul perintah raja mereka dan menyatakan kesedian untuk melakukannya, kecuali satu orang (katakanlah si A). Ia berniat mengelak, bukan membawa sesendok madu malah menaruh disendoknya itu dengan air. "Tak apalah. toh, acaranya kan malam hari, pasti gelap dan tak kan ada yang tau", gumamnya dalam hati. dan kalaupun dituang ke bejana, air yang dibawanya juga tak akan mengubah rasa madu yang semua warga bawa.
Tibalah saat yang dinantikan raja itu. Namun, apa yang terjadi selanjutnya?. Setelah semua warga mengisi bejana, ternyata sang raja mendapatkan seluruh bejana berisikan air. Rupanya, seluruh warga berpikiran sama dengan si A, mereka mengharapkan warga lain membawa madu dan membebaskan diri dari tanggung jawabnya.
Kisah seperti ini bisa saja terjadi, bahkan mungkin sering terjadi di tengah-tengah masyarakat. Kita ingat betapa rasulullah dulu pernah berwasiat dalam sebuah hadis :
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤول عَنْ رَعِيَّتِه (متفق عليه)
Tanggung jawab merupakan sebuah prinsip yang bahkan ditekankan oleh agama. Setiap orang adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Rasulullah SAW. mengajarkan dalam hadits di atas kepada setiap muslim untuk bertanggung jawab, karena dengan sikap ini ia akan selamat di masa pertanggungan nanti. untuk itu, agama islam memberikan petunjuk agar kejadian di atas tidak terjadi. mulailah dari diri sendiri, karena hanya dengan sikap demikianlah bejana sang raja akan dipenuhi madu bukan air, apalagi racun.
[1]Disarikan dari buku lentera hati: kisah dan hikmah kehidupan karya M. Quraish Shihab
[2]Diedit oleh shofwan najmu, penulis buku panduan ibadah musafir, Al-Maghfiroh Jakarta.
[3]Tulisan ini pernah dimuat dalam Buletin Perdana edisi 137
Setiap warga paham betul perintah raja mereka dan menyatakan kesedian untuk melakukannya, kecuali satu orang (katakanlah si A). Ia berniat mengelak, bukan membawa sesendok madu malah menaruh disendoknya itu dengan air. "Tak apalah. toh, acaranya kan malam hari, pasti gelap dan tak kan ada yang tau", gumamnya dalam hati. dan kalaupun dituang ke bejana, air yang dibawanya juga tak akan mengubah rasa madu yang semua warga bawa.
Tibalah saat yang dinantikan raja itu. Namun, apa yang terjadi selanjutnya?. Setelah semua warga mengisi bejana, ternyata sang raja mendapatkan seluruh bejana berisikan air. Rupanya, seluruh warga berpikiran sama dengan si A, mereka mengharapkan warga lain membawa madu dan membebaskan diri dari tanggung jawabnya.
Kisah seperti ini bisa saja terjadi, bahkan mungkin sering terjadi di tengah-tengah masyarakat. Kita ingat betapa rasulullah dulu pernah berwasiat dalam sebuah hadis :
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤول عَنْ رَعِيَّتِه (متفق عليه)
Tanggung jawab merupakan sebuah prinsip yang bahkan ditekankan oleh agama. Setiap orang adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Rasulullah SAW. mengajarkan dalam hadits di atas kepada setiap muslim untuk bertanggung jawab, karena dengan sikap ini ia akan selamat di masa pertanggungan nanti. untuk itu, agama islam memberikan petunjuk agar kejadian di atas tidak terjadi. mulailah dari diri sendiri, karena hanya dengan sikap demikianlah bejana sang raja akan dipenuhi madu bukan air, apalagi racun.
[1]Disarikan dari buku lentera hati: kisah dan hikmah kehidupan karya M. Quraish Shihab
[2]Diedit oleh shofwan najmu, penulis buku panduan ibadah musafir, Al-Maghfiroh Jakarta.
[3]Tulisan ini pernah dimuat dalam Buletin Perdana edisi 137

Comments
Post a Comment