awan gelap berlabuh di atas langit rob'ah, melawan semburat pagi di timur. sejuk santai. dibawah teduhnya seorang laki paruh baya berangkat semangat sekali, wajahnya penuh gempal percaya diri. ardi pergi lebih awal dari biasanya, ini hari penting. sejak malam hari tes skripsi jadi tegalan dalam kepalanya, ia menyiapkan semuanya; mengulang materi, belajar menjawab masalah, sampai menghapal teori dari skripsi yang diajukannya.
tapi lagi-lagi sayang, waktu belum bersikap baik. terlihat di kampus, mahasiswa-mahasiswa sekelasnya berjejal di koridor dengan cerita ceria. Sementara ardi, ia baru selesai tes, sekonyong keluar dari ruangan. beda dari sebelumnya, gambaran wajahnya telah hancur ditelan lara.
"pak darwin kayanya kesel deh sama w cok, 3 kali skripsi w ketahan sama dia. ampun" curhatnya menyeringai.
"sabar di, terus kau mau bayar dia??" celoteh temannya.
"nggak taulah, kayanya w duluan ye cok"
"seriusan"
"iye"
mentari siang tegar menantang, tapi tetap tak mampu menembus keramaian kampus. Pohon-pohon menyaring cahayanya, jadi tak begitu panas. saat itu ardi beranjak cepat, beringas. satu tatapannya bahkan mengusir kumbang, ia begitu kuncup membawa surat itu, surat yang berisikan keterangan dari dosennya.
"alamak, sulit sekali sekolahku ini" bentaknya.
ia tertunduk menyusuri gerbang, ada beban di kepalanya. Berat sekali. teman-teman mahasiswa lain bergegas untuk sampai di rumah, ini moment kebahagiaan mereka. tak lama lagi mereka wisuda. sementara ardi tepat saat itu, ia mengenyam title mahasiswa tua.
......................
24 april 2014, pagi sebelumnya. 06.30 waktu kairo.
suara angin menderu di jendela tingkap, dingin menggelora. salmah, ibu ardi adalah perempuan baya. dari garis wajahnya terlihat, pipinya sudah cekung dan mengendur.
namun hari ini ia tampak begitu cerah, saking cerahnya memancari kehangatan rumah yang mereka huni berdua, ibu dan anak.
"ardi, ayo bangun. sarapannya sudah ibu buatkan" salmah mengingatkan sembari mengetuk pintu kamar ardi.
"baik bu, sebentar" sahut ardi.
kehidupan mereka cukup, namun belum lengkap juga dibilang bahagia. sudah 10 tahun ini mereka hidup berdua, ardi dan salmah ibunya. sejak kecelakaan yang mengenaskan itu, yang merenggut ayah dan kaki ibunya.
"pagi bu" sapa ardi keluar dari ruang kamarnya, ia mengecup kepala salmah.
"ayo sarapan nak" balas salmah sembari mengusap kepala anak semata wayangnya.
"baiklah" ardi bantu mendorong kursi roda ibunya.
rumah itu luas, sangat cukup untuk keluarga besar. ruang tamu, 2 kamar tak terpakai, meja makan besar masih dikelilingi sepi. hanya ardi dan ibunya. seperti biasa, saling berhadapan dan berbagi cerita.
"gimana nak, siap?"
"yah, in sya allah. Doanyalah bu."
"tawakal ala allah, berdoa juga kamu"
"iya"
"ah aku pergi dulu, sudah pukul 7 bu."
"habiskan dulu sarapanmu"
"sudah bu" ardi pamit, ia kembali menyisakan sebuah kecup di kepala ibunya. dan salmah, ia hanya menyorot dengan hati mendamba."hati-hati nak, semoga berhasil"
..........................
pukul 09.00 waktu kairo
di luar apartemen, bundaran rob'ah telah riuh sesak, ruas jalan dikuasai mobil-mobil pekerja, dirusuhi juga angkutan-angkutan umum dari angkot sampai auto bus (bis kota). ibu salmah sigap, semua pekerjaan rumah telah usai diurus. sekarang ia bersiap keluar, menuju toko bunga miliknya.
fresh flowers, warna-warni bunga tertata rapih menyemaikan hatinya. Toko itu berada persisi di samping apartemen 15 tempat tinggalnya, dekat sekali. seantero rob'ah mengenal betul toko bunga itu, yang biasa menghias mobil-mobil pengantin. mereka menyebut dengan nama 'aurad salmah'. sekarang tokonyapun semakin lega, ia bahkan telah memiliki beberapa bantuan pekerja; seorang kasir dan seorang pengikat bunga.
biar tua ia tetap enggan kalau hanya istirahat di rumah. buat apa? dunia ini masih indah. "Bergerak itu hidup" selanya. setiap pagi kerjaan salmah adalah menyirami satu-satu pot di belakang toko, semua kegiatannya beralih ke kebun bunga kecil miliknya. bukan apa-apa, ada ingatan disana. bapaknya ardi, mengingat saat ia dan suaminya menjaga toko dulu sambari mencitakan masa depan bersama.
"permisi" seseorang beruluk dibelakang.
"eh bu siska, mau cari bunga?" sambut salmah.
ibu dihadapannya menarik bibir tersenyum, matanya berpencar mengitari bunga-bunga.
"kemari" tuntun salmah.
siska diantarnya melihat-lihat, dikenalkan macam-macam bunga pilihan di tokonya.
"bu salmah sehat?"
"alhamdulillah, sehat. o iya mau cari bunga apa?" tanya salmah.
"aku ingin yang terbaik" sontak siska.
"oke, yang terbaik. kau dapatkan yang terbaik, marigold. bunga ini kesayangan suamiku." tanggap salmah terkekeh-kekeh.
"o ya?" balik siska meyakinkan.
"ya"
mereka menghabiskan waktu bersua. saat tua, wanita memang lebih terang soal cerita. mereka melepaskan semuanya panjang lebar. dalam kesempatan itu bu siska dengan bangga membagi berita baik tentang wisuda anaknya, fadli. aroma kebahagiaan tercium oleh salmah, ia sampai tergiur tanpa sadar.
"hari ini juga ardi ujian skripsi, semoga saja ya bu"
"ya rabb"
"eh, kalau begitu saya pamit bu salmah" sambung siska sembari beranjak.
"loh mau kemana, tehnya belum dihabiskan"
"iya, nanti kapan-kapan saya sempatkan mampir kembali" ramahnya. salmah memeluk.
.....................................
ardi, satu surat gagal memalingkan jalannya pulang. ia putuskan berdiam sejenak di jajanan seberang kampus. amplop di genggamannya bukan saja mengancamnya, tapi juga menghancurkan satu janji pada ibu. "benar-benar" pikirnya. "haruskah aku pulang?" Tambahnya.
Ardi terjebak dipungut kecewa. "memang bukan salah siapa-siapa, yang salah. ya salah w" Tanyanya sendiri.
"amu, saya pinta syai"
…………………………
salmah, ia telah menyiapkan bunganya sendiri, marigold yang lama terpaku sebagai pajangan dikamarnya. ia ambil untuk anaknya. entahlah, kerap kali kelulusan memang didekatkan dengan bunga seperti hari jadi pernikahan dan pesta. bunga itu kesayangan ayahnya ardi. warnanya kuning emas dan berkelopak banyak.
ia menunggu ardi sudah lama, duduk dalam sorotan jingga, yang dibuat matahari saat menambat di tepian barat. menggandakan makna utuh, keindahan dan keagungan jadi satu artian yang terlibat.
"kemana dia?"
Kebetulan sekali, padahal baru saja dibicarakan. Saat itu ardi terlihat di kejauhan. Salmah melambaikan tangan supaya ardi mendekat. Tapi ia tak menangkapnya, ardi turun dari bis hijau sambil terus melihat muka jalan. tertunduk. salmah bersanding senyum, ia langsung menggapai roda satu arah menghadap anaknya. mereka berpapasan di taman depan apartemen.
"dari mana saja di?" lembut salmah. ardi wirang, malu menunjukan selembar surat cetak itu.
"duduklah" salmah menggapai surat tersebut, tapi tak membukanya. salmah paham, ia langsung menyodorkan bunga di tangannya.
"untuk apa?"
"senyummu sudah bahagiaku. Sudah, antar ibu ke toko. ibu lupa, kunci rumah ada disana."
Ardi menyambut perintah ibu, mendorongnya sampai ke toko dan pulang bersama. "di, semangat itu modal, semangatlah. Simpan juga bunga itu, kalau kau tolak ibu bakal marah. Karena itu marigold, bunga kesayangan bapakmu, tau!" Sambung salmah mengakhiri.

Comments
Post a Comment