Skip to main content

Chike -kekuatan dari Tuhan



Di dataran gurun moro, persis di arah selatan sungai wosha yang membelah gunung-­gunung pasir itu, jauh dari arakan sungainya sebuah perkampungan lama masih berdiri. Di dalamnya hanya anak­anak dan wanita. Rumah-­rumah mereka bertonggak kayu-­kayu tua kering yang terikat. atapnya terbuat dari tembikar, tanah pekat yang dibakar tapi tanpa polesan gilap, hanya dibungkusi bilah­bilah daun panjang.
Malam itu angin telah membawa udara panas, menguapi kulit-­kulit gersang para penduduk di sana. Belum sempurna disergap cahaya dari timur, orang-­orang itu harus kembali bangun dan bangkit dari lelapnya, padahal belum habis lelah mereka.
 ..........

"crrinnng ckrring" lonceng kecil berkerincing. Kepala suku chike – kekuatan dari tuhan, sengaja membunyikannya. Memaksa agar semua orang berkumpul bersama di balai depan rumahnya.
Di sanalah para ­ibu dan anak-­anak itu berjejal, masih dengan coreng­-moreng muka setelah upacara pemanggilan hujan tadi malam. Meski berusia tua nek jamee, pengganti –istri dari kepala suku yang telah meninggal beberapa tahun lalu- itu berucap dengan mata menebar begitu jantan, suaranya melangit dan berat, terbawa dari ketegarannya untuk mempertahankan keluarga­-keluarga yang sekarang di hadapannya.
"malam ini, kita tak lagi melihat bintang", seraknya. "ketahuilah, hujan tak akan datang cepat. sebentar lagi kemarau panjang. Kita harus bersiap", biarpun prolog awalnya pelan dan tenang, tetap saja membawa risau di antara mereka, para ibu bertatapan. beberapa yang lain langsung merujuk doa ke langit. Tak ada bintang, pertanda buruk bagi mereka, nampaknya ramalan besar nenek dan para tetua suku benar terjadi. Musim panas ini adalah musim yang datang seratus tahun sekali, gejalanya sama persis dalam buku yang turun-temurun di pegang kepala suku. Bermula sumur dengan mata air yang meluap­-luap kini telah surut, lalu bertebarannya burung-­burung hitam ke timur, sampai di akhir alamat petaka, bintang pujaan mereka sudah tak terlihat lagi. "seberapa lama nek?" Seorang anak setelah itu bertanya.
"jaga-­jaga saja, karena aku tak tahu. sejauh ini yang nenek lihat adalah pertanda. Bintang morus yang seharusnya menjadi terang malam, semalampun telah hilang. Yang kuharap sekarang, kalian harus segera menghemat persediaan air dan terus menjaga doa".
"lalu, kapan pemburu pulang?" sahut yang lain.
"Sampai saat ini belum ada kabar dari para suami­suami kita, sampaikan doa kalian untuk mereka, semoga selamat dan segera datang." Tukasnya datar. nek jamee lalu menutup pidatonya dan berbalik memasuki tirai. Kerumunan ibu­-ibu itu jadi ikut berjuntai harap­cemas. Sembari memalingkan wajah keras mereka ke tanah, para ibu­ itu memeluk anak­anaknya lagi, raut di wajahnya kaku dan terperanjat. "semoga ayahmu pulang lebih cepat, nak". lirih seorang ibu kepada bayi yang ditimangnya.
"aku kira ada kabar dari ayah, bu. Apa tuhan tak lagi mendengar doa kita" kata seorang anak kepada ibunya.
"dengar, orang-­orang kita tidak bertahan hidup hanya beberapa tahun nak, nenek moyang kita juga pernah mengalami musim kering. orang-­orang kita nyatanya sanggup, begitu juga kita. kau harus ingat pesan nenek tua suku. Tak lama juga, ayahmu dan yang lainnya akan datang".
"tapi bu?"
"adan", ibunya memotong, Ada air sepat pada wajahnya. "percaya sama ibu, tuhan itu dekat".
.................
Saat itu kekhawatiran menjadi masalah utama, lebih berbahaya dari keringnya sumur dan kurangnya bahan pangan. Sayangnya penyakit seperti itu pun mudah menyebar, mewabah ke seluk tiap ibu dalam atap-­atap. Bersama anak-­anak didalam rumah-­rumah yang tegak dan kuat itu mereka berbaringan. Berselonjor tanpa alas dan terus mengerjap-­ngerjap. Sementara jauh diluar pemukiman, jauh dari bayangan keluarganya di rumah, para pemburu itu satu-­persatu tumbang. Dari segerombolan, sisa 3 orang. mereka termangap-mangap seperti seekor koi dalam aquarium. "seberapa jauh lagi perjalanan kita?" tanya seseorang yang agak tertinggal di belakang. Dengan tongkatnya yang rapuh seolah sang komandan, aresh menoleh, "sisa setengah hari lagi, ayo!", semampunya ia menjawab. Mereka beriringan dengan tubuh gontai, peluhnya sudah tak keluar. Mereka juga belum pernah pergi ke tempat itu, entah benar atau cuma legenda. Dahan-­dahan melambai di sisinya, danau tempat banyak ikan yang ramai dengan para penambak, tempat dimana orang-­orang berduyun menambat terpal. "terus saja ke arah timur, setelah 7 hari kalian akan sampai" kata nek suku, pikirnya mengingat­-ingat.
Sebuah petunjuk kosong. "semoga saja benar".
sudah lewat sebulan dari perjalanan mereka, tapi oase itu belum juga tampak. "baiklah, kita berhenti sebentar" kata aresh. Setelah menengok kembali ke belakang, matanya kosong. panas membuat darah dari hidung dan bibirnya merosot, ia terkejut. yang tersisa tinggal dirinya seorang.
..............
Di padang pasir ini tak ada timur dan barat, mereka tak bisa mengetahuinya. Tanpa bulan atau matahari semuanya sama saja, sebatas ladang pasir. Hari-­hari jadi kerap diselingi kebisuan, pohon besar di pusar pemukiman juga sudah mati disengat pasir panas, lebih­lebih karena ketiadaan air. Tinggal batangnya dan beberapa ranting pendek yang tak lagi berdaun. Orang-­orang melihat jalan sudah buntu, hanya benang kematian yang terpintas, cepat atau lambat tinggal menunggu waktu.
"kita akan mati, kita akan mati" ­teriak seorang ibu berlarian, anaknya yang lunglai diangkatnya di atas kepala. Hampir mati terpengap minta susu.
"turunkan anakmu, bodoh!". Nek jamee yang melihat langsung menegur. Sang ibu itu merengek, anaknya diturunkan perlahan lalu disusui seseorang yang lain. Kekhawatiran menjadikan gelagat­-gelagat para ibu berbeda. Beberapa orang yang optimis dan penuh keyakinan bersamaan bersenandung di sekitar sumur, menyanyikan doa-doa dari buku tetua, menyajikan asap kecil walaupun terus-­menerus di gerus angin, ada kepastian dalam syairnya:

Air dari syurga
Kami menunggu cahaya yang memanjat di timur
menunggu air merembas, ketika kabut meredam
yang menghadirkan kedamaian
meneteskan bulir kehidupan

Sudah sejak lama lidah-­lidah mereka hambar, tubuh mereka bahkan lebih gersang. Pipi sudah menyatu menggambarkan garis-­garis gigi, perut­-perut mereka mengendur dan meringsut kedalam, menyisakan tulang rusuk yang menonjol seperti menyeruak keluar.
Akhirnya setiap hari satu anjing ditikam, tak jarang juga unta mereka. Para ibu itu tak begitu peduli lagi terhadap titah sang nenek atau keberatannya, karena bukan itu yang diperlukan. haus dan lapar mereka sudah tak tertahan. Para tetua dihujat, kekhawatiran benar-­benar mewabah lebih cepat dari kolera.
"Bagaimanapun anjing itu penjaga kita, dan unta itu bakalan penghalau badai nanti untuk kita". Tanggap nenek.
Meski alasan nek jamee itu benar, tetap keguguhan mereka tak bisa ditawar. Darah anjing yang hangat lalu jadi rebutan dan daging-­dagingnya jadi kerumunan. Tak ada toleransi lagi kali ini, karena pilihan itu sendiri, bertahan dan hidup atau segera mati.
"adan, kita harus pergi". Adan ditarik ibunya menghindari keramaian.
"pergi?, tapi kemana bu?", "ke tempat di antara tiga gunung, kata nenek ayahmu ke sana". "jadi, kita akan menemui ayah?" kata adan melayangkan mata bulatnya. ibunya memantulkan dagu, meyakinkan. "horeee" adan girang. Memang bukan hanya prediksi badai dari nenek tetua alasannya, atau saudara mereka sendiri yang jadi ancamannya. Saat itu mereka sepakat mencari Aresh –suaminya.
.............
Hari itu kabut pasir menyelingi muka mereka untuk menyelinap keluar, angin menerpa hebat, adan dan ibunya sudah pergi tanpa sepengetahuan nek jamee ke arah timur seperti yang didengarnya dari percakapan para tetua. Belum lama kemudian, badai pasir datang ganas sekali, bahkan lebih cepat dari gelombang Tsunami. Pagar­-pagar yang mengelilingi rumah-­rumah tercerabut, ibu dan anak tercerai. Melihatnya, teriakan-­teriakan gencar bersahutan, ibu-­ibu yang di sekitar sumur beberapa darinya beranjak menyelamatkan diri, sisanya berangkulan dengan terus memanjatkan doa yang semakin kencang.

Air dari syurga
Kami menunggu cahaya yang memanjat di timur
menunggu air merembas ketika kabut meredam
yang menghadirkan kedamaian
meneteskan bulir kehidupan

"bagaimana ini, sepertinya badai segera datang" desah ibunya pelan. Adan masih duduk menangkai di atas pundaknya, mereka cukup jauh dari desa dan terus menyusuri gurun. "tuhan, tanah pasirnya semakin dalam". Sang ibu membatin.
"tidakkah kau lelah bu, aku rasa anginnya juga semakin kencang" sela adan.
"ya, baiklah" ibu itu berhenti saja, adan diturunkan dekat dekapannya. "sekarang, tutup matamu dan biarkan ibu bercerita"
"jangan pernah membuka mata!"
"kenapa?"
"husshh, kau akan melihat ayahmu"
"baik bu"
"ada sebuah keluarga, mereka tinggal dalam rumah yang diseluputi rumput pada tanahnya. Mataharinya hangat, langit di atasnya biru cerah, kau bisa tidur di datarannya yang landai dan hijau, anginnya sejuk tak membawa pasir. begitu permai."
Ibu itu menyebar matanya saja, Pasir terus menusuk, menjelma bak peluru. Bulir tangis sang ibu pun terasa sakit, merah maru berkelindan keluar bersama darah "ssstt, tutup matamu adan. Jangan lihat!, dengarkan saja ibu" sang ibu menutup mata adan dengan tangan lembutnya, lalu melanjutkan cerita.
"Setiap harinya mereka bermain, berlarian mengikuti anak sungai. Tertawa riang menembus sawah dan perkebunan. lalu ketika sore mereka mengakhiri dengan bercerita, seperti biasa, berhenti di bawah teduhan pohon rindang, bersantai sambil mengamati senja, lalu mengikuti kepak-­kepak bangau di udara, menunggu bintang besar yang mengekor setelahnya..." badai sudah habis menggulung, menyisakan pasir rata.
"jangan menangis adan!"
"aku takut"
"hushh buka matamu, ini ayah"
mereka tertimbun. Di perkampungan pun rumah-­rumah sudah tak terlihat, raib saja dilahap. jelang setelah itu, tak lama Matahari kembali, cahayanya memanjat dari balik tumpukan pasir yang tinggi, seperti mecusuar di tengah galangan kabut pantai. mata air lalu meluap­luap, membuat genangan yang tak lama kemudian menjadi besar. Jadilah pedesaan lama itu, sebuah oase yang dinamakan chike. Kekuatan dari tuhan, doa dari penduduk chike untuk kehidupan generasi baru yang bertandang. Nenek jamee benar soal ramalan tuanya, hanya saja sebenarnya oase itu, tempat yang di cari pemburu adalah perkampungan mereka.

Comments

Popular posts from this blog

Identitas

Transformasi media adalah bentuk dari kemajuan peradaban manusia. Seperti tubuh, otak juga berkembang sepanjang berjalannya waktu. Kemajuan ini; ilmu pengetahuan, teknologi, media informasi, sudah semestinya terjadi. Karena dalam mata rantai kehidupan, hanya manusia seorang yang diberikan akal. Tidak lumba-lumba tidak binatang, hanya manusia dan yang lebih lagi bahwa setiap yang ada pada alam ini diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Allah berfirman: و في أنفسكم أفلا تبصرون “dan pada dirimu sendiri. Apakah kamu tidak memperhatikan” Ada manusia telah sampai ke bulan, mars, dan lebih dari itu dengan pesawat berkecepatan cahaya. Ya. Apa yang terjadi detik ini di afrika amerika bisa tahu. Ya. Namun secerdas apapun manusia tidak akan mampu menciptakan nyamuk. Kemampuan manusia dalam teknologi mutakhir adalah tugas manusia (imaratul ardh) dan kebahagiaan bagi manusia lainnya. Adapun masalah penciptaan adalah hak Allah. Manusia sering tidak mengakui identitasnya sebagai...

Guru

Dulu, ketika tengah bodoh-bodohnya, kepala sekolah Ust. Faruq (guru senior DNC) sering mengingatkan, khususnya dalam apel beliau menyusutkan Guru dalam akronim Digugu & Ditiru secara mutlak, seperti pencerahan buat setiap murid -selain sya- dan sentilan halus untuk yg lain. sekalipun kalimat itu terpatri di kedalaman tapi maknanya terbentur karna yg mampir kemudian adalah peribahasa usil, "guru kencing berdiri murid kencing berlari". *maaf, tapi memang ketololan saat itu sedang jadi-jadinya. 😅 . . Sekarang, dari sosoknya sedikitnya sya mengerti maksud itu. Guru (digugu & ditiru) karna Guru layaknya air merta jiwa, Guru adalah kebaikan yg amerta. Guru (digugu & ditiru) karna Guru layaknya figur dari jiwa yg suci, Guru adalah pewaris para Nabi. #Gurukupahlawanku #terimakasihguru #selamathariguru

AKU

Aku adalah aku Aku bukan dia Aku tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.. Aku bukan maksud ana selang penciptaan Aku adalah gemetar di keheningan Aku dipenggalan malam Aku adalah decakan tak termisal, Skala denyut kerinduan Aku.. Aku.. Aku Aku isyarat kepasrahan Aku bukan berarti apa-apa, Ketika aku ditandaskan, dunia ini hilang Hukum Ruang, waktu, lebur tak bersulang Aku.. Aku.. Aku Aku adalah keramat sufi Yang hidup dalam dimensi ketiadaan