Skip to main content

Puasa Abangan


Nama, apa hendak orang dengan sebuah nama? Beberapa orang berpendapat,"apalah artinya sebuah nama, serumit apapun penyeleksian lafaz untuk memilahnya. Hanya untuk dipanggil." Dan begitulah memang dalam ilmu tata bahasa. Sebut saja rembulan (دال) sebagai sebuah panggilan yang dipasangkan untuk benda langit yang bersinar terang di malam hari (مدلول), sehingga benda langit itu dapat dipanggil khalayak rembulan.
Beberapa berpendapat lain, berkeyakinan bahwa nama itu bukan tidak ada artinya, bahkan memiliki kekuatan. Seperti pada pasangan suami-istri yang baru dikaruniai seorang putra. Mereka sepakat menamainya dengan sastrawijaya. Namun patut disayangkan karena diperanjakan usianya yang pertama sastrawijaya sering ditempa sakit, selalu lesu. Karena sakit berkepanjangan nenek sastra berwejang,”sastra harus berganti nama,  nama itu tidak cocok”. Mengguguhi nasihat itu ditukarlah nama anak mereka dengan nama lain yang disepakati pula. Walhasil, sastra yang telah diubah namanya tiba beberapa hari saja sembuh, bahkan tidak mudah lagi ditempa sakit. Nama memiliki daya.
Shakespeare pernah bilang: What is in a name?.
Sebenarnya dua hipotesa di atas tidak bertolakan jika kongklusi dari pengertian pertama bahwa nama sebagai panggilan dan kedua bahwa nama memiliki kekuatan. Nama sebagai panggilan tidak bertentangan dengan kekuatan nama itu sendiri, begitupun sebaliknya.
Pada hakikatnya nama hanya digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang dinamakan dengan syarat disepakati pemakaiannya dalam masyarakat, singa untuk binatang buas, rembulan untuk satelit bumi yang mengelilingi matahari, pulpen, kertas, dll. Sekiranya tak dipanggil rembulan, satelit bumi yang mengelilingi matahari itu juga tetap ada. Sekalipun bolpoint dinamai manusia keeksistensiannya sebagai alat tulis tidak berubah, benda mati. Kongkretnya nama adalah sebutan atau label yang diberikan kepada benda, manusia, hal, yang biasanya digunakan untuk membedakan satu dengan yang lain[1].
Nama, dari pembagiannya ada satu makna dengan banyak nama. Ramadhan adalah salah satunya –bulan ke-sembilan dalam penanggalan hijriah, ia memiliki lebih dari satu nama, di antaranya : Sayyid[2]nya para bulan atau bulannya al-Qur’an atau bulan yang penuh berkah, dsb. Seperti dalam sebuah kaidah: "اختلاف العبارات باختلاف الإعتبارات" atau .""إتحد باالذات واختلف بالإعتبار
Untuk satu hal dengan banyaknya nama tentu tidak seperti satu nama dalam satu makna, memiliki nilai tambah atau kekhususan.
Dalam sebuah qadhiah disebutkan:"كثرة الأسماء تدل على شرف المسمى"  dikaitkannya dengan bulan ramadhan banyaknya nama menerangkan kemuliaan baginya. Jika diproporsikan memang bukan sembarang, perihal banyaknya nama untuk satu makna merupakan satu hal dari kebiasaan orang-orang arab, dahulu mereka juga suka memperbanyak nama –terhadap satu makna- di antaranya: untuk suatu yang ditakuti, asad, ghazanfar yang berarti singa dan suatu yang mereka sukai, khamr, nabiz yaitu arak[3].
Agama sebagai sebuah ajaran selalu tidak terlepas dari nilai-nilai moral normatif, tidak terkecuali Islam. Pada bulan Ramadhan setiap muslim diwajibkan berpuasa, pengertian puasa adalah menahan diri dari lapar, haus, dari setiap hal yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya sang surya.
Namun adakah puasa hanya sebatas demikian?. Sebagai agama, dimana norma atau nilai etik dari puasa?.
Dalam memahami sesuatu, ajaran Islam mengajarkan untuk jangan melihat sesuatu sebatas kulitnya. Esensi. Substansi adalah hal yang jauh terbilang penting.
Puasa bukan hanya dikenal kaum muslimin, agama selain islam juga mengamalkan puasa. Bahkan sebelum Nabi Muhammad SAW. diutus, kaum terdahulu telah mengenal dan melaksanakan puasa. Ibadah puasa dalam ajaran Islam tidak mengajarkan berlapar dan haus seharian, Nabi Muhammad dalam sabdanya telah menghimbau :“Betapa banyak orang yang berpuasa, sementara yang dia dapatkan dari puasanya hanyalah rasa haus dan dahaga…” (H.R. Ahmad, Ibn Khuzaimah). Lebih ditinjau kedalam, sejatinya maksud puasaa dalah meneguhkan hubungan vertical dan horizontal.
Pertama, pada ramadhan setiap muslim diwajibkan berpuasa oleh Allah SWT. Diperintahkan wajib secara preogratif kepada umat islam. Makanan dan minuman halal yang secara hukum mubah menjadi haram ditengah puasa –tentunya setelah diturunkan ketetapan wajibnya puasa ramadhan-. setelah ketentuan Allah SWT.
Disinilah peneguhan hubungan vertical berproses. Yaitu melalui ketaatan semata. Pada dasarnya semua perihal makhluk sesuai kehendak yang menciptakannya. Jika Allah SWT. (yang menciptakan) menghendaki suatu perintah atau larangan kepada makhluknya maka serta-merta hal tersebut mutlak ditanggungkan dan ditaati secara sadar sehingga meneguhkan hubungan trasendental kepada Allah SWT.
Kedua, berlapar, haus sepanjang hari, dan menjauhi hal yang membatalkan puasa tidak memiliki makna substansif sebelum diikuti oleh kepatutan sosial. Puasa memupuk watak dan jiwa sosial. Puasa merestui terciptanya solideritas, golongan kaya muslim dituntut merasakan kesulitan (lapar & haus) yang biasa menimpa kalangan tidak mampu, lalu berkepanjangan kepada perhatian dan sikap ringan tangan (shadaqoh) –muslim “borjuis” kepada muslim kelas “proletar”, jika boleh dikatakan-. Dan lebih dalam lagi melanjut kepada sikap perbaikan kualitas individu dengan meninggalkan nafsu destruktif yang mengusik ketentraman sosial; seorang pedagang menghindari ketidakjujuran, seorang anak berbakti pada bapak-ibunya, seseorang menjaga kehormatan orang lain, menjauhi MIRAS, mencuri, bahkan mengutuk segala hal yang mengancam keindahan humanis.
Dari titik ini puasa jelas memberikan impuls positif bagi teguhnya hubungan sosial masyarakat. Sebagai norma, kenyataannya puasa jelas meneguhkan hubungan horizontal.
Akhirnya, dari kedua hubungan yang terlibat, satu azas yang selamanya harus dipertahankan adalah keikhlasan. Bukan saja seluruh amal tidak terima, kedua makna puasapun tidak akan tercapai. Nilai-nilai konstruktif dari puasa yang meransang kesadaran penuh akan watak dan jiwa sosial diharapkan bersifat terus-menerus dan terefleksikan dalam kehidupan keseharian seorang muslim. Jika tidak, ekstrimnya pendekatan horizontal itu bisa-bisa dipahami sebagai topeng sementara. kamuflase. Memang baik, tetapi bukan makna utuh dari puasa yaitu puasa abangan.

[1] Dikutip dari Wikipedia tgl 1/8/2015 jam 17.23 CLT, https://id.wikipedia.org/wiki/Nama
[2] Sayyid: memiliki kemuliaan
[3] Dikutip dari kitab siroh nabawi الروضُ الأُنُفُ karya suhail (508-581H/1114-1185M)

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Identitas

Transformasi media adalah bentuk dari kemajuan peradaban manusia. Seperti tubuh, otak juga berkembang sepanjang berjalannya waktu. Kemajuan ini; ilmu pengetahuan, teknologi, media informasi, sudah semestinya terjadi. Karena dalam mata rantai kehidupan, hanya manusia seorang yang diberikan akal. Tidak lumba-lumba tidak binatang, hanya manusia dan yang lebih lagi bahwa setiap yang ada pada alam ini diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Allah berfirman: و في أنفسكم أفلا تبصرون “dan pada dirimu sendiri. Apakah kamu tidak memperhatikan” Ada manusia telah sampai ke bulan, mars, dan lebih dari itu dengan pesawat berkecepatan cahaya. Ya. Apa yang terjadi detik ini di afrika amerika bisa tahu. Ya. Namun secerdas apapun manusia tidak akan mampu menciptakan nyamuk. Kemampuan manusia dalam teknologi mutakhir adalah tugas manusia (imaratul ardh) dan kebahagiaan bagi manusia lainnya. Adapun masalah penciptaan adalah hak Allah. Manusia sering tidak mengakui identitasnya sebagai...

Guru

Dulu, ketika tengah bodoh-bodohnya, kepala sekolah Ust. Faruq (guru senior DNC) sering mengingatkan, khususnya dalam apel beliau menyusutkan Guru dalam akronim Digugu & Ditiru secara mutlak, seperti pencerahan buat setiap murid -selain sya- dan sentilan halus untuk yg lain. sekalipun kalimat itu terpatri di kedalaman tapi maknanya terbentur karna yg mampir kemudian adalah peribahasa usil, "guru kencing berdiri murid kencing berlari". *maaf, tapi memang ketololan saat itu sedang jadi-jadinya. 😅 . . Sekarang, dari sosoknya sedikitnya sya mengerti maksud itu. Guru (digugu & ditiru) karna Guru layaknya air merta jiwa, Guru adalah kebaikan yg amerta. Guru (digugu & ditiru) karna Guru layaknya figur dari jiwa yg suci, Guru adalah pewaris para Nabi. #Gurukupahlawanku #terimakasihguru #selamathariguru

AKU

Aku adalah aku Aku bukan dia Aku tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.. Aku bukan maksud ana selang penciptaan Aku adalah gemetar di keheningan Aku dipenggalan malam Aku adalah decakan tak termisal, Skala denyut kerinduan Aku.. Aku.. Aku Aku isyarat kepasrahan Aku bukan berarti apa-apa, Ketika aku ditandaskan, dunia ini hilang Hukum Ruang, waktu, lebur tak bersulang Aku.. Aku.. Aku Aku adalah keramat sufi Yang hidup dalam dimensi ketiadaan