Skip to main content

LGBT, demonstrasi skuleris Indonesia

LGBT atau GLBT adalah sama yaitu akronim dari Lesbian, Gay, Biseks, dan Transeksual  atau Transgender yang masing-masing memiliki pengertian berbeda.  Melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata Lesbian dkk –red. bukanlah lahir dari rumpun bahasa Indonesia. Kata tersebut merupakan serapan dari bahasa inggris[1] yaitu kosakata non-peyoratif yang dipakai untuk mewakili identitas gender pada individu yang bukan heteroseksual. Ini adalah bukti bahwa secara makna, LGBT jelas barang impor dan oleh karena demikian sangat wajar jika masyarakat Indonesia kebanyakan begitu shock, dan kepalang sulit menerima kenyataan ganjil tersebut.

Belakangan ini di Indonesia, polemic menyangkut penyataraan hak kaum lgbt tengah ramai menarik perhatian public. Memang, kenyataan adanya kaum yang terjangkit hal tersebut tidak bisa disangkal. Bahkan saat ini, Invasi lgbt tersebar luas –lgbt campaigne- lewat slogan seperti: love wins dan terutama sekali melalui akses media; web, acara tv, film, dialog terbuka, koran dsb dengan berdalih di bawah payung kemanusiaan. Lebih lagi, meskipun masih tabu dalam lapisan masyarakat Indonesia dan tergolong minoritas alih-alih menyembunyikan diri, mereka justru berani angkat suara. Dalam beberapa acara tv serentak berapologi: “jangan jadi tuhan untuk kami, biarkan kami tanggung dosa kami sendiri” –mengecilkan peran agama. Bukan nekat, secara langsung maupun tidak langsung hal itu diindikasi tersulut oleh pemikiran sekuler dan infiltrasi Amerika (Negara adidaya) atas legitimasi same-sex marriage yang secara konstitusional dideklarasikan Juni 2015 lalu. Sebenarnya untuk Negara berketuhanan, secara ringkas 6 agama resmi yang diakui pemerintah telah menunjukan sikap tidak setuju akan hal tersebut yang dengan ini menjadikan komunitas itu –sadar ataupun tidak sadar- telah jelas memperkosa pancasila pertama, mempercundangi pasal 29 UUD 1945, dan menodai sendiri kesucian jiwanya.

Dalam hal ini, benang merah yang paling dekat adalah proyeksi dari lahirnya semangat sekuler pada tubuh Indonesia karena menyangkut masalah dikotomi agama yang tentu dalam kaitannya terhadap otoritas Tuhan sebagai kebenaran absolut yang merupakan realitas tertinggi. Maka pertama dan menjadi kekhawatiran bersama adalah adanya krisis keyakinan terhadap Tuhan. Syeikh Ali gomaa mengatakan,”sejarah menjelaskan bahwa tidak ada manusia atau kelompok manusia yang hidup tanpa agama.”[2] Yang dalam hal ini mengisyaratkan bahwa Manusia adalah makhluk religious. Pernyataan tersebut dijelaskan lebih detail oleh Karen Armstrong dalam bukunya History of God dengan alasan utama bahwa manusia mulai menyembah dewa-dewa (tuhan –red) segera setelah mereka menyadari diri sebagai manusia.

Dalam islam, kita mengetahui bersama bahwa ilmu fiqh intoleran terhadap akal. Ilmu yang menjelaskan hukum syari’at ini; shalat 5 waktu wajib, puasa di bulan ramadhan wajib, zakat fitrah wajib, Riba haram, makan daging babi haram, makan harta anak yatim haram, dll mengharuskan seorang muslim mukallaf untuk menjalankan perbuatan –selama ada nash yang menjelaskan hukum suatu tindakan atau ibadah- tanpa harus berkomentar: kenapa sholat, puasa, zakat itu wajib? Kenapa makan harta anak yatim, daging babi atau hewan halal yang disembelih tidak dengan nama Allah itu haram?. Suruhan dan larangan adalah hak preogratif Allah sebagai pemegang otoritas tertinggi, Sebab ada kalanya manusia (sebagai makhluk) sanggup mencampuri suatu hal dan tidak untuk hal lain. Ketika pasangan suami istri berharap agar dikaruniai anak laki-laki dan keinginannya bersebrangan dengan kenyataan. Apa boleh buat?. Sama artinya, taruhan soal nyawa; saya pasti mati dalam usia tua. Tidak bisa. Bahkan bayi baru seumur jagung bisa mati. Siapa yang tau?. Manusia tidak bisa masuk ke ranah apa yang mungkin telah diciptakan atau ditakqdirkan dengan sengaja.maka wajib bagi seorang muslim mukallaf secara sadar untuk mentaati. Dalam konteks Homoseksual Islam telah melarang melalui firman Allah dalam surah al-ankabut ayat 28-29:

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ (٢٨) أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ وَتَقْطَعُونَ السَّبِيلَ وَتَأْتُونَ فِي نَادِيكُمُ الْمُنْكَرَ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلا أَنْ قَالُوا ائْتِنَا بِعَذَابِ اللَّهِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ (٢٩)

Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya: “sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu”. (28) Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu? Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. (29)

Kedua, merebaknya sikap materialistic; keduniaan, hedonis. Dulu, para filsuf bergumul terhadap 3 permasalahan yang mereka sebut مسائل الكبرى, dari mana kita ada? (pertanyaan tentang masa lalu), kenapa kita ada? (pertanyaan tentang sekarang), dan kemana kita kembali? (pertanyaan tentang yang akan datang). Hal ini membuat mereka membuat diskursus tentang; Allah, manusia, alam, etika, keindahan, logika dan metode berpikir.[3] Kemudian mencari bagaimana agar hidup yang sementara ini bermakna. Dan kesemuanya telah dijawab oleh islam. Praktisnya jika diasosiasikan agama adalah seperti seni, dari agama kita (manusia) dapat menemukan makna dan nilai kehidupan. Syeikh Ramadhan al-buthy pernah mengatakan,”ada 3 faktor yang mendorong manusia condong kepada sesuatu, pertama Al-Ihsan kebaikan, kedua Al-Jamal keindahan, dan ketiga Al-‘Azhomah kebesaran. Islamlah satu-satunya yang dapat menghilangkan sifat materialistic dan keduniaan dari hati manusia dan mengisinya dengan cinta kepada Allah yang Maha Esa. Karena pertama Allahlah yang Maha Baik, kedua Allahlah Yang Maha Indah, dan ketiga Allahlah Yang Maha Agung”.




[1] Lihat,”http://www.oxforddictionaries.com/definition/english” 27 February 2016, pukul 4.06 AM CLT.
[2] Dikutip dari buku, Aqidah ahli sunnah hal 9 karangan Syeikh Ali gomaa terbitan Al-Muqottom publisher.

Comments

Popular posts from this blog

Identitas

Transformasi media adalah bentuk dari kemajuan peradaban manusia. Seperti tubuh, otak juga berkembang sepanjang berjalannya waktu. Kemajuan ini; ilmu pengetahuan, teknologi, media informasi, sudah semestinya terjadi. Karena dalam mata rantai kehidupan, hanya manusia seorang yang diberikan akal. Tidak lumba-lumba tidak binatang, hanya manusia dan yang lebih lagi bahwa setiap yang ada pada alam ini diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Allah berfirman: و في أنفسكم أفلا تبصرون “dan pada dirimu sendiri. Apakah kamu tidak memperhatikan” Ada manusia telah sampai ke bulan, mars, dan lebih dari itu dengan pesawat berkecepatan cahaya. Ya. Apa yang terjadi detik ini di afrika amerika bisa tahu. Ya. Namun secerdas apapun manusia tidak akan mampu menciptakan nyamuk. Kemampuan manusia dalam teknologi mutakhir adalah tugas manusia (imaratul ardh) dan kebahagiaan bagi manusia lainnya. Adapun masalah penciptaan adalah hak Allah. Manusia sering tidak mengakui identitasnya sebagai...

Guru

Dulu, ketika tengah bodoh-bodohnya, kepala sekolah Ust. Faruq (guru senior DNC) sering mengingatkan, khususnya dalam apel beliau menyusutkan Guru dalam akronim Digugu & Ditiru secara mutlak, seperti pencerahan buat setiap murid -selain sya- dan sentilan halus untuk yg lain. sekalipun kalimat itu terpatri di kedalaman tapi maknanya terbentur karna yg mampir kemudian adalah peribahasa usil, "guru kencing berdiri murid kencing berlari". *maaf, tapi memang ketololan saat itu sedang jadi-jadinya. 😅 . . Sekarang, dari sosoknya sedikitnya sya mengerti maksud itu. Guru (digugu & ditiru) karna Guru layaknya air merta jiwa, Guru adalah kebaikan yg amerta. Guru (digugu & ditiru) karna Guru layaknya figur dari jiwa yg suci, Guru adalah pewaris para Nabi. #Gurukupahlawanku #terimakasihguru #selamathariguru

AKU

Aku adalah aku Aku bukan dia Aku tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.. Aku bukan maksud ana selang penciptaan Aku adalah gemetar di keheningan Aku dipenggalan malam Aku adalah decakan tak termisal, Skala denyut kerinduan Aku.. Aku.. Aku Aku isyarat kepasrahan Aku bukan berarti apa-apa, Ketika aku ditandaskan, dunia ini hilang Hukum Ruang, waktu, lebur tak bersulang Aku.. Aku.. Aku Aku adalah keramat sufi Yang hidup dalam dimensi ketiadaan