![]() |
| Eulogi; kau |
bermula benar bahwa setiap orang akan kembali keperaduannya. bukankah begitu qais dan laila, kemanapun, biar sampai batas langit. akan kemudian kembali dan bertemu. aku terkatung dengan bait-bait yang belum kututup. selayang kertas dan garis-garis tinta menunggu kuakhiri. masih teringat, saat itu ia bertabik tanpa berucap. siapapun kau ia benar-benar mengunci syaraf. sebuah katalis. keadaan itu diluar jangkauanku. ku gapai-gapai pendaran wajahnya. benar. sampai ragu menyadarinya. “Siapakah wahai engkau nona, terangkan padaku?.” Biar hanya nama ia tak membalas. kiranya tuhan begitu mulia menghadapkannya padaku. seperti ditiupkannya kembali sebuah ruh. Darinya bait-baitku terlibat dan tumbuh....
aku tenggelam, biar kupanggil kau, 2 hari yang lalu baru habis aku berperang, menjaga perbatasan, melakukan pengawalan. tolong jangan karena ini aku binasa. biar kau berbalik balas namaku. biar alur ini sesederhana itu.
Ada garis-garis menyatu,
sebentar terjalin, lalu
hangus berubah abu
lewat jam demi jam,
sebentar terjalin, lalu
hangus berubah abu
lewat jam demi jam,
malam ini aku bertengkar,
aku bersitegang soal jejak yang kau buat kabut.
setelah air pada ujung daun menggelayut
ada samar kulihat terang semakin menyatu
berpilin-pilin sebelum kemudian memadu
berpilin-pilin sebelum kemudian memadu
di pojok retina
yang rangkaiannya dari praduga,
merangkap sukma...
awalan adalah bagian bahkan setengah cerita, tapi ini keseluruhan bagiku. aku diterpa suatu yang membinasakan, sampai garis edarku terumus sejak kala itu. dari degup arah jarum jam, dari kisaran 1 sampai sepuluh, jangan kau sekejam itu.

Comments
Post a Comment