Skip to main content

Eulogi; Kau

Eulogi; kau
Sudah sampai tenggatnya, akan kuceritakan. memang bukan seperti epos atau hikayat kuno. cerita yang lebih terang daripada bulan, lebih silau dari matari. Disini akan kusampaikan sepenggalnya saja karena kesuluruhannya terlalu jauh. ini tentang suatu anugerah agung karena kemurniannya. yang dengannya aku, kau disebut manusia. 
bermula benar bahwa setiap orang akan kembali keperaduannya. bukankah begitu qais dan laila, kemanapun, biar sampai batas langit. akan kemudian kembali dan bertemu. aku terkatung dengan bait-bait yang belum kututup. selayang kertas dan garis-garis tinta menunggu kuakhiri. masih teringat, saat itu ia bertabik tanpa berucap. siapapun kau ia benar-benar mengunci syaraf. sebuah katalis. keadaan itu diluar jangkauanku. ku gapai-gapai pendaran wajahnya. benar. sampai ragu menyadarinya. “Siapakah wahai engkau nona, terangkan padaku?.” Biar hanya nama ia tak membalas. kiranya tuhan begitu mulia menghadapkannya padaku. seperti ditiupkannya kembali sebuah ruh. Darinya bait-baitku terlibat dan tumbuh....


Ada garis-garis  menyatu,
sebentar terjalin, lalu
hangus berubah abu

lewat jam demi jam,
malam ini aku bertengkar,
aku bersitegang soal jejak yang kau buat kabut.
setelah air pada ujung daun menggelayut

ada samar kulihat terang semakin menyatu
berpilin-pilin sebelum kemudian memadu
di pojok retina
yang rangkaiannya dari praduga,
merangkap sukma...

 aku tenggelam, biar kupanggil kau, 2 hari yang lalu baru habis aku berperang, menjaga perbatasan, melakukan pengawalan. tolong jangan karena ini aku binasa. biar kau berbalik balas namaku. biar alur ini sesederhana itu.
awalan adalah bagian bahkan setengah cerita, tapi ini keseluruhan bagiku. aku diterpa suatu yang membinasakan, sampai garis edarku terumus sejak kala itu. dari degup arah jarum jam, dari kisaran 1 sampai sepuluh, jangan kau sekejam itu.

Comments

Popular posts from this blog

Identitas

Transformasi media adalah bentuk dari kemajuan peradaban manusia. Seperti tubuh, otak juga berkembang sepanjang berjalannya waktu. Kemajuan ini; ilmu pengetahuan, teknologi, media informasi, sudah semestinya terjadi. Karena dalam mata rantai kehidupan, hanya manusia seorang yang diberikan akal. Tidak lumba-lumba tidak binatang, hanya manusia dan yang lebih lagi bahwa setiap yang ada pada alam ini diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Allah berfirman: و في أنفسكم أفلا تبصرون “dan pada dirimu sendiri. Apakah kamu tidak memperhatikan” Ada manusia telah sampai ke bulan, mars, dan lebih dari itu dengan pesawat berkecepatan cahaya. Ya. Apa yang terjadi detik ini di afrika amerika bisa tahu. Ya. Namun secerdas apapun manusia tidak akan mampu menciptakan nyamuk. Kemampuan manusia dalam teknologi mutakhir adalah tugas manusia (imaratul ardh) dan kebahagiaan bagi manusia lainnya. Adapun masalah penciptaan adalah hak Allah. Manusia sering tidak mengakui identitasnya sebagai...

Guru

Dulu, ketika tengah bodoh-bodohnya, kepala sekolah Ust. Faruq (guru senior DNC) sering mengingatkan, khususnya dalam apel beliau menyusutkan Guru dalam akronim Digugu & Ditiru secara mutlak, seperti pencerahan buat setiap murid -selain sya- dan sentilan halus untuk yg lain. sekalipun kalimat itu terpatri di kedalaman tapi maknanya terbentur karna yg mampir kemudian adalah peribahasa usil, "guru kencing berdiri murid kencing berlari". *maaf, tapi memang ketololan saat itu sedang jadi-jadinya. 😅 . . Sekarang, dari sosoknya sedikitnya sya mengerti maksud itu. Guru (digugu & ditiru) karna Guru layaknya air merta jiwa, Guru adalah kebaikan yg amerta. Guru (digugu & ditiru) karna Guru layaknya figur dari jiwa yg suci, Guru adalah pewaris para Nabi. #Gurukupahlawanku #terimakasihguru #selamathariguru

AKU

Aku adalah aku Aku bukan dia Aku tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.. Aku bukan maksud ana selang penciptaan Aku adalah gemetar di keheningan Aku dipenggalan malam Aku adalah decakan tak termisal, Skala denyut kerinduan Aku.. Aku.. Aku Aku isyarat kepasrahan Aku bukan berarti apa-apa, Ketika aku ditandaskan, dunia ini hilang Hukum Ruang, waktu, lebur tak bersulang Aku.. Aku.. Aku Aku adalah keramat sufi Yang hidup dalam dimensi ketiadaan