Skip to main content

Reposisi; mengerti dan menerima

            Beberapa minggu lalu 28 oktober 2015, belum lagi kita lupa akan sebuah momentum besar yang terus mengguncang bahu Indonesia muda. Kesadaran golongan muda untuk merebut kemerdekaan dari sebuah kenyataan kolonialisme Belanda selama berabad-abad melalui integritas satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa Indonesia.
            Setiap kenyataan tertentu menuntut syarat dan ketentuan tertentu. Kolonialisme dalam konteksnya pasti menuntut pengebirian pada hak-hak sipil. Pribumi dibutakan dengan bulatan hukum penguasa yang bahkan datang dari luar. Masih tersimpan dan tergambar suara-suara romusha, pekerja rodi dari memoriam sejarah kita. Kenyataan paling perihnya lagi saat itu, kelas-kelas pendidikan pernah ditutup. Hak kemajuan pribumi dihindarkan. Sebagai kawula terpelajar dengan sebuah kenyataan kolonial yang tersedia mereka berani mengusahakan kenyataan baru (kemerdekaan) walaupun dengan syarat yang terbilang utopian. Nasionalisme. Menyatukan Sabang sampai dengan Merauke.
            Dalam operasi sederhananya syarat dan ketentuan seorang pengendara sepeda motor berbeda dengan seorang pengendara mobil, karena mobil dan motor adalah dua hal yang berbeda. Begitu juga ketentuan dari kenyataan seorang pelajar dengan pegiat seni, ketentuan menjadi pegawai negeri dengan seorang petani. Berbeda. Setiap keadaan atau realitas tertentu merestui satu atau lebih dari sebuah syarat dan ketentuan tertentu.
Belajar tekun dan keras
            Dalam kaitannya dengan syarat tersebut, keadaan menjadi hal yang harus ditimbang. Entitas keadaan adalah suatu keniscayaan pada rangkaian manusia, waktu, dan ruang. Dalam ilmu sejarah di samping ruang dan waktu, manusia adalah unsur utama yang sangat pokok. Karena manusia adalah satu-satunya aktor yang menentukan suatu peristiwa sejarah. Sebut saja, tahun kemerdekaan Indonesia. Keadaan setelah berakhirnya perang dunia kedua yang diikuti runtuhnya tembok komunis. Globalisasi santer terdengar dan kenamaan digadangkan Amerika. Kata itu mengisyaratkan babak baru dari tingkat kemajuan peradaban manusia dalam berbagai bidang, yang oleh Bill Clinton dianggap titik mula dunia tanpa sekat.
            Zaman baru. Sebagai golongan muslim terpelajar kita dituntut mengerti dan sadar akan keadaan ini. Bahwa era globalisasi adalah kenyataan tersedia yang harus diterima seperti kesadaran golongan muda Indonesia akan masa kolonial. Bedanya, globalisasi (bukan globalisme) tidaklah keadaan meraup kebebasan orang lain dan menghapus nilai-nilai kemanusiaan. Ia tidak keluar dari haluan dan murni dari pengembangan sifat manusia itu sendiri. Menghadapi zaman yang tak terbantahkan ini, kita tak bisa menolak, mengisolasi diri dengan apologi; globalisasi ini bikinan Amerika kafir atau yang paling memilukan Zaman rosul tidak ada yang seperti ini. Padahal, dilihat secara positif dan konstruktif, kemajuan ini sarat masalahat dan Islam mendorong terciptanya maslahat (kebaikan) bagi manusia. Dalam sebuah sebuah ungkapan fiqh kita dapatkan, Dimana ada maslahat (bagi umat manusia), maka di situlah (terselenggara) syari’at Allah.

            “Setiap kenyataan tertentu menuntut syarat tertentu” Menyoal pergumulan ini, syarat standar kawula muda sebagai modal untuk zaman kompetitif ini adalah ilmu pengetahuan. Caranya dengan belajar tekun dan keras. Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq mantan menteri wakaf Mesir pernah mengatakan bahwa dunia kita tak akan mengasihani orang-orang lemah, sebagaimana ia tak akan menghormati siapapun selain mereka yang kuat.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Identitas

Transformasi media adalah bentuk dari kemajuan peradaban manusia. Seperti tubuh, otak juga berkembang sepanjang berjalannya waktu. Kemajuan ini; ilmu pengetahuan, teknologi, media informasi, sudah semestinya terjadi. Karena dalam mata rantai kehidupan, hanya manusia seorang yang diberikan akal. Tidak lumba-lumba tidak binatang, hanya manusia dan yang lebih lagi bahwa setiap yang ada pada alam ini diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Allah berfirman: و في أنفسكم أفلا تبصرون “dan pada dirimu sendiri. Apakah kamu tidak memperhatikan” Ada manusia telah sampai ke bulan, mars, dan lebih dari itu dengan pesawat berkecepatan cahaya. Ya. Apa yang terjadi detik ini di afrika amerika bisa tahu. Ya. Namun secerdas apapun manusia tidak akan mampu menciptakan nyamuk. Kemampuan manusia dalam teknologi mutakhir adalah tugas manusia (imaratul ardh) dan kebahagiaan bagi manusia lainnya. Adapun masalah penciptaan adalah hak Allah. Manusia sering tidak mengakui identitasnya sebagai...

Guru

Dulu, ketika tengah bodoh-bodohnya, kepala sekolah Ust. Faruq (guru senior DNC) sering mengingatkan, khususnya dalam apel beliau menyusutkan Guru dalam akronim Digugu & Ditiru secara mutlak, seperti pencerahan buat setiap murid -selain sya- dan sentilan halus untuk yg lain. sekalipun kalimat itu terpatri di kedalaman tapi maknanya terbentur karna yg mampir kemudian adalah peribahasa usil, "guru kencing berdiri murid kencing berlari". *maaf, tapi memang ketololan saat itu sedang jadi-jadinya. 😅 . . Sekarang, dari sosoknya sedikitnya sya mengerti maksud itu. Guru (digugu & ditiru) karna Guru layaknya air merta jiwa, Guru adalah kebaikan yg amerta. Guru (digugu & ditiru) karna Guru layaknya figur dari jiwa yg suci, Guru adalah pewaris para Nabi. #Gurukupahlawanku #terimakasihguru #selamathariguru

AKU

Aku adalah aku Aku bukan dia Aku tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.. Aku bukan maksud ana selang penciptaan Aku adalah gemetar di keheningan Aku dipenggalan malam Aku adalah decakan tak termisal, Skala denyut kerinduan Aku.. Aku.. Aku Aku isyarat kepasrahan Aku bukan berarti apa-apa, Ketika aku ditandaskan, dunia ini hilang Hukum Ruang, waktu, lebur tak bersulang Aku.. Aku.. Aku Aku adalah keramat sufi Yang hidup dalam dimensi ketiadaan