part v Ryumi, ia sedang terbaring di atas kasur putih, dalam jiwanya ada pertarungan sengit, menyimak balik masa, ingatan-ingatan yang kembali semakin membuat jatuh ia dipeluk duka. belum lama ia terjaga dari tidurnya, di jendela bulan terlihat menggantung, termangu juga menatapnya, hari masih gelap. Ryumi beranjak dari pembaringannya, sebuah harap masih mendayu. ia sadar diampun tak berguna, malah tambah menyulitkan hati. Ia berniat keluar dari ruang rawat, langit-langitnya terlalu terang, sebenarnya bukan masalah atap ruangan yang terang, ia hanya malu kalau harus berkali-kali meneteskan air mata. bersamaan dengan itu ryumi menatap iksan, nia dan ibu panti tengah terlelap di bangku kamar rawat. alat bantu pernafasan yang mencengkram wajah langsung dilepasanya, lalu sekuat tenaga perlahan melangkah. Baru sebulan kemarin rasanya ia tinggal di rumah sakit. Sekarang ia kembali lagi, kabel infus jadi tertusuk juga di pergelangannya. suasana hat...
Aku hanya cendawan yang sebentar mati tanpa keteduhan