Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2014

Ryumi

part v Ryumi, ia sedang terbaring di atas kasur putih, dalam jiwanya ada pertarungan sengit, menyimak balik masa, ingatan-ingatan yang kembali semakin membuat jatuh ia dipeluk duka. belum lama ia terjaga dari tidurnya, di jendela bulan terlihat menggantung, termangu juga menatapnya, hari masih gelap. Ryumi beranjak dari pembaringannya, sebuah harap masih mendayu. ia sadar diampun tak berguna, malah tambah menyulitkan hati. Ia berniat keluar dari ruang rawat, langit-langitnya terlalu terang, sebenarnya bukan masalah atap ruangan yang terang, ia hanya malu kalau harus berkali-kali meneteskan air mata. bersamaan dengan itu ryumi menatap iksan, nia dan ibu panti tengah terlelap di bangku kamar rawat. alat bantu pernafasan yang mencengkram wajah langsung dilepasanya, lalu sekuat tenaga perlahan melangkah. Baru sebulan kemarin rasanya ia tinggal di rumah sakit. Sekarang ia kembali lagi, kabel infus jadi tertusuk juga di pergelangannya. suasana hat...

Ryumi

Part IV handphone disakuku bergetar, hasan memberikanku pesan singkat. aku diharap segera kembali. oke, baiklah. kuniatkan kembali lebih awal. matahari memang sudah kian mengarah ke barat, tak lama lagi saatnya bulan berkunjung. akhirnya serempak kami putuskan untuk pulang. banyak sekali yang kupendam dalam ingatanku, matahari bukan hanya menyentuh bumi tempatku. hari seolah berbisik menyampaikan kabar orang-orang dengan hati lebih tangguh. pikirku sempat melayang. kenapa kian banyak presentase orang menyelesaikan hidup? sekitar satu juta orang bunuh diri setiap tahun. aneh, bahkan jauh lebih besar ketimbang jumlah kematian perang dan tindak kriminal. "mereka hanya melewatkan ruang antara kisah suka dan duka yang sebenarnya adalah keindahannya, padahal waktu singgah hanya sementara." shinkansen tak lagi sesak penumpang, orang-orang dengan leluasa berbincang. sepertinya yang lain masih betah disana. sementara nia sibuk bermain tangan dengan handphone, rio dan r...

Ryumi

Part III wajahnya seperti dirombak. sebelumnya halus, ada urat-urat merah di pipi yang membuat rona. sekarang tak terlihat lagi. aku melihat hasil rontgen dan berdiri dihadapan aslinya. parah. kulitnya tak selembut dulu, ada bekas luka disekitar wajahnya. hidungnya patah, begitu juga pergelangan kaki sebelah kanannya. ia berkata disela perhatianku,"aku baik-baik saja, jangan khawatir." "bagaimana bisa, siapa yang melakukannya" "kau masih mengingatnya, siapa yang melakukannya." "pemuda dekat rumahmu?, atau yang mana?"tukasku. pertanyaan saling menyambung datang dan keluar saja di mulutku. inikah perlakuan manusia?. ryumi diam. nona ini hanya melukiskan senyum terbaiknya. sementara nia sedari tadi memperhatikan dengan seksama. "aku akan melaporkannya pada polisi!" sentaknya tiba-tiba. "siapa?" tanyaku. "tidak perlu" spontan ryumi. "apa yang kalian bicarakan?, jelaskan padaku" "...

Ryumi

 Part II kami berjalan bersama sebelum akhirnya berpisah, aku dan nia satu arah sementara ryumi ke arah lain. begitulah dan seterusnya. setiap usai maghrib kami bersama berbincang santai sebelum berpisah, lebih sering aku dan ryumi, akhir-akhir ini kerap nia tak hadir. entahlah pernah ia katakan sedang ada urusan. "kenapa kau tak masuk masjid?" tanyaku penasaran. "kau tau, orang-orang muslim bilang Tuhannya sangat penyayang" "ya Maha Penyayang, kenapa?" "semoga ia juga sayang padaku, itu saja" "aku belum menangkapnya" "aku non muslim" bulan ini aku mengurus masjid. sudah sepekan aku tinggal di masjid, jadi tak sering lagi aku berkunjung ke kawan se tanah air. kalau ada hal penting saja. nia membantuku memperkenalkan diri dengan imam masjid. ustaz hasan. dari cuci kakus, membersihkan karpet, sampai jama'ah lain mengenalku. aku mulai berbaur, beberapa kali menyempatkan diri ke islamic centre meminta n...