Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2014

Tanggung Jawab[1][2][3]

            Inilah sebuah cerita sederhana. Pada satu ketika di sebuah kerajaan, seorang raja ingin menguji kesadaran warganya. Ia pun memberi titah langsung kepada setiap warga untuk membawa sesendok madu pada satu malam yang ditentukan dan kemudian madu tersebut dituangkan dalam sebuah bejana yang ada di puncak bukit tengah kota.             Setiap warga paham betul perintah raja mereka dan menyatakan kesedian untuk melakukannya, kecuali satu orang (katakanlah si A). Ia berniat mengelak, bukan membawa sesendok madu malah menaruh disendoknya itu dengan air. "Tak apalah. toh, acaranya kan malam hari, pasti gelap dan tak kan ada yang tau", gumamnya dalam hati. dan kalaupun dituang ke bejana, air yang dibawanya juga tak akan mengubah rasa madu yang semua warga bawa.             Tibalah saat yang dinantikan raja itu....

Ryumi

VI (terakhir) Air mata bukan kesatuan luka, tapi senang juga. Keduanya berkelindan jadi bagian darinya."Sudahilah tangismu nak", seru bu aiko pahit. Ryumi sesenggukan, suaranya kian parau. "Jangan terburu-buru ma." "Bisa kau lihat, dilangit bintang pun berkedip, mereka dengar, berdecak sendu". Selayang keharuan menyekap warna mukanya. Apalagi nia, air di matanya sudah habis porsi. Tidak disangka ia sebegitu melelehnya. "Ssst, sudah! tidak baik menangis terlalu lama". Bu aiko menyeka bulir tangisnya,"ryumi, kau tau mengapa tuhan menutup tabir waktu?". ryumi menggeleng,"kenapa dengannya ma?". "Karna kalau tidak, semua manusia akan menangis sepanjang masa", "apa jadinya jika manusia menyaksikan takdirnya sendiri?, semua orang pasti merasa diburu. Berapa banyak orang yang tak sanggup bangun, mereka telah tau apa yang akan terjadi". Dagu ryumi memantul-mantul membiarkan bu aiko melepas rang...

Terjegal

awan gelap berlabuh di atas langit rob'ah, melawan semburat pagi di timur. sejuk santai. dibawah teduhnya seorang laki paruh baya berangkat semangat sekali, wajahnya penuh gempal percaya diri. ardi pergi lebih awal dari biasanya, ini hari penting. sejak malam hari tes skripsi jadi tegalan dalam kepalanya, ia menyiapkan semuanya; mengulang materi, belajar menjawab masalah, sampai menghapal teori dari skripsi yang diajukannya. tapi lagi-lagi sayang, waktu belum bersikap baik. terlihat di kampus, mahasiswa-mahasiswa sekelasnya berjejal di koridor dengan cerita ceria. Sementara ardi, ia baru selesai tes, sekonyong keluar dari ruangan. beda dari sebelumnya, gambaran wajahnya telah hancur ditelan lara. "pak darwin kayanya kesel deh sama w cok, 3 kali skripsi w ketahan sama dia. ampun" curhatnya menyeringai. "sabar di, terus kau mau bayar dia??" celoteh temannya. "nggak taulah, kayanya w duluan ye cok" "seriusan" "iy...

Krisis Multidimensi

Islam Dalam Krisis Multidimensi Makalah ini disusun untuk memenuhi Tugas Ikatan Keluarga Pelajar Darunnajah Cabang Mesir 2014 Disusun oleh: Fateh Abdul Aziz Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo 2012 ........................... Penulis persembahkan tulisan ini untuk orang-orang terdekat : Zhabar Zaqulani, dan Teman-teman IKPDN, Serta segenap anggota rumah yang turut membantu mendukung karya ini.      ................................. Kata Pengantar Selamanya puji syukur terucapkan kepada Allah Yang Maha Esa, yang dengan rahmatnNya semua terasa mudah. Shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW yang membawa risalah terakhir dan terikat bagi seluruh alam. Berikut ini penulis persembahkan sebuah makalah dengan judul "Islam dalam Krisis Multidemensi" dalam rangka memenuhi tugas menulis makalah IKPDN Cabang Mesir. Selanjutnya, saya ucapkan banyak terim...

Rayuan Pulau Kelapa[1]

Setiap hari Jalan-jalan diseraki kerangka beroda, Menyisakan asap berkepul di udara, menyamai awan, berawak menguasai lebih dari tapal batas kota. Pak, ada muntahan material bumi belum juga terhenti, jangan lupa!!! Sudah hampir satu dekade Pak, Lebih ironi lagi, banyak luka hati. Coba dengarlah, rauman anak kecil tak berayah, menghadapi ibunya seorang pedagang diri. Belum lagi tiap akhir februari, bahana air bah episode negeri ; korupsi, sweatshops, erosi, childslavery dan lainnya jadi sorotan pelik dalam mimpi pertiwi …………………………………………. Bukan serial kapitulasi, Kelewat jauh sudah sejarah koloni Tapi tetap belum tunai janji kemerdekaan Indonesia dibingkai semau pihak ketiga -orang lain- bukan dari tubuh bangsa Propaganda -propogandanya menyertai Menghembuskan nafas gersang,   menjadikan tumbuh kembang derita menjadikan Bumi kita bursa dunia, dengan pesannya ia menyiratkan bahwa kita tumbal dari agenda dunia ketiga.   ...